Jayawijaya, KV- Kenaikan harga komoditas pangan menjadi faktor utama penyumbang inflasi di Provinsi Papua Pegunungan pada Desember 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,22 persen, didorong terutama oleh lonjakan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Kepala BPS Provinsi Papua, Adriana Helena Carolina pada Senin (5/1/2026), menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi, yakni 6,76 persen, sekaligus memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 3,65 persen.
“Komoditas seperti bayam, beras, rokok kretek, sawi putih, kol, daging babi, dan telur ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar,” katanya.
Selain komoditas pangan, inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, cabai rawit, jahe, ikan dalam kaleng, serta tarif ojek motor.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi, antara lain tarif angkutan udara, talas, bawang putih, tomat, jeruk, air kemasan, serta beberapa buah-buahan.
Untuk inflasi bulanan, Papua Pegunungan mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 1,58 persen pada Desember 2025.
Kenaikan ini terutama dipicu oleh naiknya harga cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah, tomat, beras, daging ayam ras, serta bensin dan bahan bangunan.
Adriana menambahkan, secara kumulatif sejak awal tahun, tingkat inflasi year to date (y-to-d) Papua Pegunungan hingga Desember 2025 berada di angka 3,22 persen, sejalan dengan tren kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah tersebut. (Stefanus Tarsi)












