Sorong, KV- Wali Kota Sorong Periode 2012-2022, Lambertus Jitmau, menyampaikan refleksi pembangunan dan kepemimpinan di hadapan masyarakat Kota Sorong.
Ia mengawali pernyataannya dengan mengajak semua pihak bersyukur kepada Tuhan atas perjalanan panjang pembangunan daerah.
Menurutnya, usia 26 tahun merupakan usia matang menentukan jati diri dan siap memikul tanggung jawab besar.
Ia mengibaratkan pemerintahan seperti rumah tangga yang menuntut kesiapan, ketegasan, dan tanggung jawab penuh pemimpinnya.
Lambertus menegaskan seluruh infrastruktur di Kota Sorong tidak hadir begitu saja tanpa keputusan berani.
Ia menyebut pemimpin harus memiliki visi jelas serta keberanian mengambil langkah strategis demi kemajuan daerah.
Visinya sejak awal ialah mewujudkan Kota Sorong sebagai kota termaju di tanah Papua.
Ia meyakini Papua Barat Daya sebagai provinsi termuda memiliki potensi berkembang paling cepat di wilayah Papua.
Keberanian Pemimpin
Namun, ia menekankan kemajuan daerah tidak datang otomatis, melainkan bergantung pada keberanian pemimpin.
Ia menolak gaya kepemimpinan yang hanya pandai berbicara tanpa tindakan nyata di lapangan.
Sebagai contoh, Lambertus membangun jalan dua jalur Kilometer 12 hingga Kilometer 18 dengan risiko besar.
Biaya ganti rugi lahan bahkan melebihi pembangunan fisik yang mencapai miliaran rupiah.
Meski APBD saat itu masih berkisar 600 hingga 700 miliar rupiah, ia tetap mengambil keputusan besar.
Enam hari setelah pelantikan, ia langsung membenahi kawasan Bandara Deo secara menyeluruh.
Ia menganggarkan ganti rugi hingga 30 sampai 40 miliar rupiah untuk mendukung pengembangan bandara.
Langkah tersebut, katanya, menunjukkan keberanian bertindak di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Ia juga mengembangkan kawasan Pelabuhan Sorong sebagai pintu gerbang distribusi logistik Papua.
Dulu kapal hanya dapat sandar satu dermaga sehingga antrean panjang terjadi di perairan.
Kini pelabuhan berkembang untuk menunjang konektivitas laut dan mempercepat arus barang menuju berbagai daerah.
Lambertus turut menyinggung reklamasi pantai seluas 50 hektare yang kini menjadi ikon baru kota.
Ia membangun stadion dalam waktu delapan bulan dan memastikan seluruh kewajiban ganti rugi dipenuhi.
Sebagai tokoh masyarakat dan perintis pemekaran, ia berperan mendorong lahirnya Provinsi Papua Barat Daya.
Ia menegaskan kepala burung Papua harus menjadi pusat pertumbuhan dan penggerak kemajuan regional.
Menurutnya, kepala daerah tidak cukup melihat dan berbicara, tetapi wajib bertindak nyata.
Ia menutup pernyataan dengan mengingatkan generasi muda agar menjadi pelaku sejarah, bukan sekadar penikmatnya. (Redaksi)


