Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Ingatlah, Engkau dari Debu, akan Kembali Menjadi Debu

0
×

Ingatlah, Engkau dari Debu, akan Kembali Menjadi Debu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan Rabu Abu.

“Ingatlah, engkau dari debu, akan kembali menjadi debu!”.

(Hari Rabu Abu, Pantang dan Puasa, 18 Februari 2026)

Bapak, Ibu, serta Saudara-Saudari sekalian, dalam Misa Kudus ini kita merayakan Hari Rabu Abu. Artinya, kita membuka dan memulai masa penting dalam Gereja, yaitu Masa Prapaskah, masa pantang dan puasa selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah.

Tradisi Rabu Abu mengajak seluruh umat merenungkan hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk fana, seraya mempersiapkan diri dalam doa, pantang, puasa, dan pertobatan.

Ungkapan liturgis, “Ingatlah, engkau dari debu, akan kembali menjadi debu!” (bdk. Kejadian 3:19), menjadi peringatan penting bagi setiap orang beriman tentang kefanaan dirinya serta kebutuhannya akan rahmat Allah.

Dalam perayaan ini, imam atau asisten imam menandai dahi setiap umat dengan tanda salib dari abu sambil mengatakan, “Ingatlah, engkau dari debu, akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Melalui ritus ini, umat diingatkan akan kefanaannya serta diajak untuk bertobat. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk fana yang memperoleh kehidupan melalui anugerah Allah (bdk. Kejadian 2:7). Tanpa napas ilahi, manusia hanyalah debu yang tidak memiliki kehidupan (bdk. Mazmur 104:29).

Hidup manusia tidak lepas dari kesulitan. Selain dapat melumpuhkan kehidupan saat ini, kesulitan juga dapat menjadi tanda kegigihan seseorang yang berjuang dengan tabah dan tekun. Nabi Yoel percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam (bdk. Yoel 2:12–18).

Ia akan menyertai perjuangan manusia dan senantiasa memberi kekuatan dalam memperjuangkan hidup demi kemuliaan-Nya.

Karena itu, dalam Masa Prapaskah atau masa tobat ini, manusia diajak terus-menerus membangun hati yang baru untuk mengenal Allah yang berbelas kasih.

Dalam tradisi Perjanjian Baru, praktik kesalehan dirangkum dalam tiga aspek utama, yaitu sedekah, doa, dan puasa.

Ketiga keutamaan ini merupakan bagian dari ajaran agama Yahudi dan tetap dipertahankan oleh Yesus, tetapi dengan penekanan pada motivasi yang paling mendalam (bdk. Matius 6:1–6, 16–18).

Kesalehan dan hidup beragama tidak boleh sebatas tampilan luar, melainkan harus berasal dari hati yang tulus dan berorientasi kepada Allah.

Momentum Rabu Abu menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk kembali merenungkan makna sejati ibadah dan relasi dengan Allah.

Praktik spiritual seperti doa, puasa, dan sedekah hendaknya dilakukan dengan ketulusan hati sebagai ungkapan iman yang autentik, bukan sekadar formalitas atau pamer kesalehan.

Dalam iman, kita percaya bahwa kita semua adalah satu keturunan dari manusia pertama, Adam.

Adam diciptakan Tuhan dari tanah (“adamah” dalam bahasa Ibrani berarti tanah). Oleh karena itu, kita semua—apa pun kondisi kita: kaya atau miskin, dari desa atau kota, dalam suka maupun duka—berasal dari tanah yang sama.

Hanya Tuhan

Maka sesungguhnya tidak ada satu pun alasan untuk memegahkan atau membanggakan diri.

Hanya Tuhanlah yang mengangkat dan menjadikan kita berarti. Posisi tanah selalu di bawah, bahkan paling rendah, dan setiap hari diinjak oleh kaki manusia. Karena itu, tidaklah pantas kita memegahkan diri, apalagi menyombongkan diri.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Yesus mengingatkan agar kita berhati-hati supaya tidak seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang suka menyombongkan diri (bdk. Matius 6:1–6, 16–18).

Namun, manusia sering kali lupa diri. Tanpa sadar, ia meninggikan dirinya dan merasa lebih hebat dari orang lain.

Dengan arogan ia merendahkan sesama, tidak peduli, serta bersikap sukuis dan rasis. Dampak luas dari arogansi dan hawa nafsu yang tak terkendali itu adalah kerusakan bumi, tanah, dan lingkungan hidup di berbagai tempat.

Karena itu, Rabu Abu juga memiliki implikasi sosial dan ekologis yang perlu disadari dan direnungkan.

Kesadaran akan kefanaan seharusnya mengarahkan kita untuk hidup dalam solidaritas, berbagi dengan sesama yang membutuhkan, serta menjaga kelestarian bumi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.

Menghormati “debu tanah” pada Hari Rabu Abu bukan hanya menyadari asal-usul manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis sebagai bentuk tanggung jawab iman.

Rasul Paulus mengajak kita, orang-orang berdosa, untuk datang dalam masa tobat ini dan berdamai dengan Allah. “Marilah, berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan” (bdk. 2 Korintus 5:20—6:2).

Selamat memasuki dan menjalani Masa Tobat, Pantang, dan Puasa. Amin.

Tuhan berkati selalu.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *