(Hari Jumad Agung, 03 April 2026)
Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus.
Hari ini, Hari Jumad Agung, secara khusus kita semua mengenang Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Sengsara sampai mati di atas kayu salib.
Kita memang tidak melakukan penyaliban Kristus. Tetapi seperti Herodes, seperti Pilatus, kita membiarkan Yesus Tuhan kita itu disalibkan. Yesus boleh dikorbankan di salib kalau dirasa bahwa Ia mengganggu. Dan Ia memang mengganggu, karena dengan hidup, sikap dan kebenaran-Nya Yesus mengusik hati nurani, menggugat hidup kebanyakan orang.
Orang-orang Farisi paling merasa terancam, karena mereka mengira bahwa Yesus akan menumbangkan kekuasaan yang sedang mereka bangun, demi kemuliaan Taurat dan Hukum itu.
Karena itu sikap mereka selalu berseberangan dengan Yesus, menegakkan “kekuasaan Farisi” yang harus lurus tanpa ada pelanggaran.
Karena Yesus mewartakan Kerajaan Allah, maka dua kekuatan berebutan tempat dalam kehidupan manusia. Maka hidup Yesus harus dirongrong, dihinakan, direndahkan, dikosongkan seperti hidup budak mati terbuang.
Tetapi justru inilah pertanda Yesus sampai pada titik akhir pengosongan diri-Nya, yang berbalik pada kebangkitan, kemuliaan, peninggian. Ini rencana Allah, yang tidak terdugai oleh musuh-musuhnya.
Inilah karya penebusan, tidak dimengerti dalam mata dunia. Bahwa Yesus yang mati di kayu salib itu sebagai harga tebusan atas dosa umat manusia (bdk. Ibr 4: 14-16; 5: 7-9; juga bdk. Yes 52:13-53:12).
Kadang kala kita memang seperti Herodes, seperti Pilatus yang membiarkan Yesus disalibkan; kadang juga kita seperti sejumlah orang Yahudi yang ikut ramai mengelu-elukan Yesus sebagai Raja ketika Ia memasuki kota Yerusalem (bdk Mat 21:1-11).
Tetapi mereka itu juga yang menyangkal Dia. Di depan Pilatus, mereka berteriak: “Jangan orang ini (Yesus), melainkan Barabas!” (bdk Yoh 18: 40). Di gereja kita khusuk memuji dan menyembah Dia sebagai Tuhan kita, tapi di tengah masyarakat kita menyangkal Dia dengan melanggar perintah-Nya.
Sadarlah… bahwa sebenarnya iman kita kepada Tuhan Yesus itu kabur, tidak jelas… seperti sejumlah orang Yahudi itu, tidak jelas putih, tidak jelas hitam juga. Iman kita abu-abu…
Kita memang tidak ikut-serta secara langsung melakukan penyaliban Tuhan Yesus. Tetapi dengan iman abu-abu kita itu, kita membiarkan Yesus dihinakan, direndahkan dan disalibkan.
Dia mati di atas kayu salib itu…. Saat ini, marilah dengan jujur kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita lebih baik daripada Herodes? Apakah kita lebih baik daripada Pilatus? Atau lebih baik daripada Yudas Iskariot? Atau Petrus yang tiga kali menyangkal Dia?
Pandanglah dan sembahlah Dia di atas kayu salib itu. Mohon rahmat pengampunan atas dosa dan kesalahan kita. Semoga darah-Nya yang tertumpah dari atas salib itu membersihan dosa-dosa kita dan dosa seluruh dunia. Aminnn
Selamat Mengenang Sengsara & Wafat Tuhan
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)













