(Hari Kamis Putih, 02 April 2026)
Bapa, Ibu, Saudara, dan Saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus
Kita semua tentu sudah tidak asing dengan istilah ‘Misa Kudus’ atau yang sering kita sebut sebagai ‘Ekaristi’. Ini adalah warisan istimewa dari Tuhan Yesus sejak Malam Perjamuan Terakhir, ketika Ia makan bersama para murid-Nya sebelum ditangkap.
“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku.’ Demikian juga Ia mengambil cawan sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, , lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” (bdk 1 Kor 11: 24-26).!'” (bdk. 1 Korintus 11:24-25).
Rasul Paulus menegaskan dengan sangat jelas bahwa setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita sedang mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang (ay. 26).
Pesan ini mengingatkan kita semua bahwa Ekaristi bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan sebuah warisan istimewa yang harus kita hayati dengan iman yang hidup secara terus-menerus selama peziarahan kita di dunia ini.
Ketika kita merayakan Misa Kudus atau Ekaristi, itu sekaligus kita menghidupi segala “makna dan nilai” dari warisan Yesus itu. Itulah harapan Tuhan Yesus sendiri, bagi kita semua pengikut-Nya di setiap jaman. “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku!”
Salut dan bangga melihat dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan Gereja Kristus sampai saat ini. Seiring dengan itu pemeliharaan dan perawatan akan warisan istimewa Tuhan Yesus itu, yakni Misa Kudus atau Ekaristi, terjaga dengan baik.
Nampak terasa suasana kebersamaan di lingkungan Gereja, seperti misa bersama dengan banyak umat, melayani bersama-sama sebagai Asisten Imam, ada Koor, Lektor, Pemazmur dan sebagainya.
Nilai “bersama-sama” dalam memuji Tuhan dan melayani seluruh umat di Gereja, sangat terasa dan menguatkan. Saling menyapa, berbagi dan melengkapi satu sama lain itu benar-benar indah.
Namun ketika kembali ke rumah masing-masing, suasana nampak berbeda. Sangat berbeda dengan suasana di Gereja.
Umat Katolik seperti hidup di dua alam yang berbeda, yakni Gereja dengan segala situasinya yang ramah-hangat; dan rumah atau keluarga-keluarga dengan situasinya yang hampir semuanya dingin, hidup sendiri-sendiri, tidak banyak peduli antara seorang dengan yang lain.
Itulah jaman yang sedang kita semua hidupi sampai saat ini, semakin saja individualistis! Manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri dan seolah-olah mengingkari kodrat dirinya sebagai makhluk sosial dan apalagi makhluk beriman.
Di keluarga, rumah-rumah tempat tinggal umat Allah mulai jarang sekali ada “makan bersama” di suatu meja, bagi seluruh keluarga.
Alasannya sangat klasik, karena semua pada sibuk dengan kerjanya. Maka makannya sendiri-sendiri, di tempat kerja masing-masing. Apalagi di kota Bandung ini tersedia di mana-mana kuliner yang menyajikan pelbagai jenis makanan enak dan lezat. Bisa makan di mana saja.
Kalau makan bersama dengan seluruh anggota keluarga saja jarang terjadi, apalagi “doa bersama”. Pasti jauh lebih sulit lagi. Padahal katanya “Keluarga itu adalah Gereja Kecil” (Ecclesia Domestica)??!!
Harusnya suasana “Gereja Kecil” itu sedikit mirip dengan Gereja besar, alias Gereja Paroki. Sekurang-kurangnya mirip situasi doanya dan kebersamaannya. Tetapi kenyataannya amat sangat berbeda! Di Gereja Paroki umat selalu “makan bersama” dalam Misa Kudus, tetapi setelah kembali di keluarga-keluarga, mereka makan sendiri-sendiri, juga kebanyakan urus dirinya sendiri-sendiri.
Keadaan rumah-rumah tempat tinggal banyak umat, mulai makin mirip saja dengan “tempat penginapan umum” di kota, di mana masing-masing orang di setiap kamar urus dirinya sendiri, tidak perlu kontak apalagi kenal dengan yang lain. Dirinya sendiri dengan handphone di tangannya, sudah cukup, itulah sudah segala-galanya!
Bapa, ibu, saudara dan saudariku sekalian.
Apa pun tantangan dan kesulitan jaman yang menghadang, Yesus tetap peduli pada kita semua, umat-Nya, tidak sampai membiarkan kita hanyut dan hilang.
Tuhan memanggil kita semua untuk saling melayani dengan kasih, bukan sekadar mementingkan diri sendiri. Teladan ini ditunjukkan oleh Yesus sendiri; setelah membasuh kaki para murid-Nya, Ia bersabda: ‘Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki’ (Yoh. 13:14).
Pesan ini adalah undangan bagi kita untuk merendahkan hati dan hadir bagi sesama sebagai wujud nyata dari iman kita.”Aminnnnnn
Tuhan Memberkati Kita Semua
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)














Semoga Teladan TUHAN YESUS, pada malam Ekaristi menjadi Kekuatan dan Tanda Kasih bagi kita semua.Berkah Dalem