Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Pertobatan Bukanlah Beban, Tapi Kesempatan Mengalami Kasih Allah yang Lebih Utuh

3
×

Pertobatan Bukanlah Beban, Tapi Kesempatan Mengalami Kasih Allah yang Lebih Utuh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan

Pertobatan Itu Bukanlah Suatu Beban,
Tetapi Kesempatan Mengalami Kasih Allah yang Lebih Utuh

(Hari Minggu Prapaskah IV, 15 Maret 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian. Kita memasuki pekan keempat Masa Prapaskah dengan merayakan Misa Kudus ini untuk membuka dan mendoakannya, supaya upaya tobat kita sepanjang pekan ini dituntun oleh Roh Kudus.

Minggu Prapaskah keempat biasa disebut pula “Minggu Laetare” atau Minggu Sukacita. Di manakah sukacita itu?

Bukankah seruan pertobatan semakin dikumandangkan? Sukacita memang ada dan terasa.

Pertobatan yang sungguh-sungguh akan membuat orang seakan mengalami kesembuhan dari kebutaan, bangkit dari kelumpuhan, dan lebih dalam lagi mengalami rahmat serta kasih Allah yang lebih utuh. Itulah sukacita.

Maka, demi mengalami rahmat dan kasih Allah, kita tidak harus menyingkirkan atau memisahkan dari hidup kita daya upaya pertobatan, melainkan justru menghadapi dan menjalaninya dengan lebih sungguh-sungguh.

Tuhan memilih dan mengurapi Daud, putra Isai dari Betlehem, seorang peternak domba, menjadi Raja Israel, menggantikan Saul (bdk. 1 Sam. 16:1b, 6-7, 10-13a).

Tuhan memilih Daud sebagai raja karena sikap hati Daud yang bertobat dan kesetiaannya kepada Allah, bukan karena perawakan fisiknya. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati” (ay. 7).

Orang yang buta sejak lahir itu disembuhkan oleh Yesus sehingga ia dapat melihat. Bahkan, akhirnya ia dapat memandang Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat (bdk. Yoh. 9:1-41).

Memang, Yesus adalah terang yang membebaskan manusia dari kebutaan dan dari kegelapan maut. Mereka yang dengan rendah hati menerima terang itu akan menerima tidak hanya terang fisik, tetapi juga terang iman.

Mereka dimampukan oleh Yesus untuk semakin mengenal dan menerima diri-Nya, tidak hanya sebagai nabi yang diutus Allah, melainkan sebagai Anak Allah.

Penebusan Yesus Kristus menjadikan setiap orang yang percaya kepada-Nya beralih dari kegelapan menuju hidup yang terang (bdk. Ef. 5:8-14).

Orang yang hidup dalam terang sudah semestinya hidup dalam kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Segala keutamaan itu bukan semata-mata usaha manusia, melainkan merupakan berkat dari cahaya Kristus.

Sebaliknya, mereka yang hidup dalam kegelapan akan melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan membinasakan.

Seperti orang Farisi dalam Injil hari ini, yang sombong bahkan menolak Yesus dengan berbagai tipu daya, mereka justru jatuh dalam kegelapan.

Mereka menjadi buta terhadap keselamatan yang ditawarkan Allah. Di sini Tuhan justru membutakan mata hati mereka yang tidak mau mengakui kelemahannya sendiri dan menutup diri terhadap yang benar dan luhur.

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian. Daya upaya pertobatan, artinya dengan rendah hati berjuang untuk makin dekat dan percaya kepada Yesus di masa Prapaskah ini, bukanlah suatu beban yang menghambat dan merugikan. Melainkan kesempatan untuk mengalami kasih Allah yang lebih utuh.

Seakan-akan kita mengalami kesembuhan dari kebutaan hati selama ini dan bangkit dari berbagai kelumpuhan yang menghambat hidup kita. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *