Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Renungan Minggu, Mereka Sekeluarga Kembali ke Nasaret

141
×

Renungan Minggu, Mereka Sekeluarga Kembali ke Nasaret

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan.

Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian. Setelah merayakan Pesta Natal pada 25 Desember 2025. Hari ini Minggu (28/12/2025), kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, yakni Yesus, Maria, dan Yusuf.

Penginjil Matius melukiskan bahwa setelah berbagai peristiwa yang mengharukan dan mengherankan seputar kelahiran Yesus, mereka sekeluarga kembali ke Nasaret.

Mereka hidup di sana sebagai keluarga tukang kayu, di Nasaret, sebuah kota kecil yang tidak dikenal umum (bdk. Mat. 2:13–15, 19–23). Keluarga Kudus itu disebut juga Keluarga Kudus Nasaret. Mereka hidup di sana selama 30 tahun, seolah tersembunyi dari pandangan mata orang banyak.

Apa yang tersembunyi di Nasaret itu? Yang tersembunyi adalah sebuah misteri. Suatu rahasia besar yang sejak berabad-abad lamanya tersembunyi dalam rencana Tuhan, dan kemudian dinyatakan kepada manusia di dunia.

Misteri itu menjadi pewahyuan, yang sekaligus menyatakan sesuatu, namun juga menunjukkan bahwa masih banyak hal yang lebih dalam untuk terus digali. Ia dinyatakan dalam lambang yang dapat dilihat manusia, tetapi menunjuk pada kebenaran yang tak tertangkap oleh mata.

Bagaikan tambang keajaiban, setiap kali satu keajaiban ditemukan, terpancar pula keajaiban lain yang masih tersembunyi. Sungguh suatu misteri.

Nasaret menampilkan nilai hidup keluarga: hidup dalam kesunyian, diam-diam, dalam doa dan kerja yang sederhana.

Hidup yang biasa saja, namun disaksikan oleh Bapa yang melihat di tempat tersembunyi, dan karena itu bernilai, utuh, serta penuh pahala.

Di Nasaret yang sunyi itu, yang terpenting hanyalah penilaian Allah atas waktu, kerja dengan jerih payah, keprihatinan, dan duka derita, hingga tiba saat yang telah ditentukan oleh Bapa.

Nasaret adalah “rahasia tersembunyi” bagi setiap orang dan setiap keluarga kita. Setiap orang memiliki “Nasaret”-nya masing-masing: hidup, doa, kerja, serta duka derita yang tersembunyi, yang tak selalu dapat dinilai oleh manusia, tetapi sangat bernilai di mata Bapa.

Sembilan puluh persen kehidupan manusia yang menentukan di hadapan Tuhan justru berada dalam hal-hal yang tersembunyi. Lihatlah Keluarga Kudus Nasaret: dari 33 tahun hidup Yesus, 30 tahun dihabiskan dalam kesunyian.

Demikian pula Maria dan Yusuf, hampir seluruh hidup mereka tidak tercatat, kecuali beberapa peristiwa penting dalam Injil. Yusuf bahkan tidak meninggalkan sepatah kata pun, hanya tindakan ketaatan pada perintah malaikat.

Kita yang berjalan hari demi hari dipanggil untuk meneladani Keluarga Kudus Nasaret. Kisah hidup kita, baik sebagai pribadi maupun keluarga, mungkin tidak pernah ditulis atau dikenal orang, kecuali dalam “buku kehidupan” di surga yang menentukan keselamatan kita.

Kisah-kisah hidup kita tersembunyi dari orang banyak. Kita dipanggil untuk rela dan ikhlas tidak dikenal, bahkan tidak mencari ketenaran.

Hidup kita hendaknya dijalani secara sederhana: dalam doa, kerja dengan jerih payah, keprihatinan, serta duka derita yang kita alami dengan setia dan tersembunyi.

Artinya, kita menyadari bahwa hidup kita tidak perlu bergantung pada pandangan dan penilaian manusia, melainkan pada Bapa di surga yang melihat yang tersembunyi dan memberi penilaian yang sejati.

Tantangan besar menghadang kita pada zaman ini. Seluk-beluk hidup kita seolah harus diketahui banyak orang, bahkan dipertontonkan agar kita dikenal dan dianggap berhasil.

Pandangan ini keliru, namun sering kali justru dihidupi. Akibatnya, kita merasa malu bila hidup kita biasa-biasa saja. Kita mudah iri ketika membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang tampak lebih maju.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Kita cenderung memamerkan pekerjaan atau kehidupan kita di media sosial, dan sering kali apa yang ditampilkan tidak sesuai dengan kenyataan. Sikap-sikap ini menunjukkan bahwa kita kurang menyadari dan tidak merawat “Nasaret” kita masing-masing.

Kita sibuk mencari pengakuan manusia, lalu menggantungkan hidup kita padanya, sementara kita mengabaikan pandangan dan penilaian Bapa di surga.

Saudara dan saudari sekalian, tema Natal yang kita renungkan tahun ini adalah: “Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga” (bdk. Mat. 1:21–24). Keluarga Kudus Nasaret—Yesus, Maria, dan Yusuf—menjadi teladan kita. Mereka sekeluarga kembali ke Nasaret yang sepi.

Marilah kita pun dengan sadar membawa keluarga kita masing-masing kembali ke “Nasaret” kita: kembali ke hidup sehari-hari yang nyata, sederhana, dan apa adanya. Marilah kita meneladani Keluarga Kudus Nasaret. Amin.

Tuhan memberkati selalu.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *