Tuhan Tidak Pernah Kkir Memberikan rahmat-Nya (Hari Raya Penampakan Tuhan, Minggu, 4 Januari 2026)
Bapak, ibu, saudara dan saudari sekalian yang terkasih,
Ketika saya masih kanak-kanak, bersama teman-teman, kami sering berlari mendekati gereja setiap kali mobil pastor bule atau pastor yang berasal dari luar negeri itu datang ke kampung kami.
Kami sekadar ingin melihat dan menonton pastor tersebut. Kadang-kadang kami diberinya sesuatu: entah gambar kudus atau rosario.
Dalam pikiran kanak-kanak saya, seolah terdengar bisikan yang sangat jelas: “Yang bisa menjadi pastor adalah orang-orang bule, hanya orang kulit putih saja.”
Ketika saya bertambah besar, saya mulai tahu bahwa orang Indonesia juga bisa menjadi pastor, tetapi sepertinya hanya orang Jawa.
Baru ketika saya remaja, saya sungguh menyadari bahwa orang kulit hitam seperti saya pun bisa menjadi pastor. Tuhan itu bebas memilih siapa pun yang dipakai sebagai pelayan-Nya. Tuhan tidak pernah kikir memberikan rahmat-Nya.
Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, yang sering juga disebut Pesta Epifani. Kata Epifani berasal dari bahasa Yunani epiphaneia, yang berarti “penampakan yang nyata atau mencolok”.
Maka, pesta Epifani adalah perayaan penampakan Tuhan, yakni penampakan kemuliaan-Nya kepada seluruh dunia.
Penampakan ini bukan hanya untuk bangsa Barat, bukan hanya untuk mereka yang berkulit putih, dan bukan pula hanya untuk bangsa Timur atau mereka yang disebut dunia ketiga.
Bukan hanya untuk mereka yang tinggal di bagian barat Indonesia, di Jawa, tetapi juga untuk bagian timur yang sering luput dari perhatian dan kerap diremehkan.
Tuhan Yesus dengan sengaja menampakkan bintang kemuliaan-Nya justru dari Timur, bukan dari Barat (bdk. Mat 2:1–12). Tiga orang majus dituntun oleh bintang itu, datang dari jauh untuk mencari dan menemukan Sang Kebenaran Sejati dalam diri Yesus.
Sejak awal kehadiran Yesus di dunia ini, secara tersirat telah ditegaskan bahwa di dalam diri-Nya semua manusia adalah setara.
Tidak ada barat dan timur, tidak ada orang kelas satu dan kelas dua, tidak ada yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
Peristiwa Tuhan menampakkan diri-Nya menjadi tonggak sejarah keselamatan bagi semua bangsa di dunia, bukan hanya bagi bangsa Yahudi. Sunguh luar biasa, Tuhan tidak pernah kikir memberikan rahmat-Nya.
Paulus, yang sendiri berasal dari bangsa Yahudi, dipilih dan diutus secara khusus untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (bdk. Ef 3:2–3a.5–6).
Ia berjuang agar bangsa-bangsa lain memperoleh kebebasan untuk menerima terang Injil, lepas dari belenggu hukum Taurat dan batasan budaya.
Perjuangan ini menjadi pedoman bagi perjalanan iman bangsa-bangsa di tanah misi, termasuk bangsa kita, Indonesia.
Keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah kikir membagi rahmat-Nya kepada siapa pun yang percaya kepada Yesus Kristus ditegaskan Paulus dalam perkataannya:
“Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus” (Gal 3:28).

Saudara dan saudari sekalian,
dalam Kristus, kita semua baik dari barat, timur, utara, maupun selatan, dari suku dan budaya apa pun—adalah saudara dan keluarga.
Seharusnya tidak ada lagi sikap angkuh, merasa diri lebih dari orang lain, lalu meremehkannya. Sikap seperti ini adalah sikap yang tidak terpuji dan jelas bertentangan dengan semangat Yesus Kristus sendiri.
Semoga rahmat Tuhan yang kita terima dalam perayaan Epifani ini sungguh memperbaiki dan membaharui hidup kita.
Nabi Yesaya, yang dahulu berseru kepada Yerusalem, “Kemuliaan Tuhan terbit atasmu”, kini juga menyerukan hal yang sama kepada kita:
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (bdk. Yes 60:1).
Marilah, saudara dan saudari sekalian, kita bangkit dan menjadi terang bagi dunia sekitar kita. Marilah kita bersaksi bahwa kita semua adalah saudara dan keluarga dalam Kristus. Amin.
Selamat Hari Raya Penampakan Tuhan.
Tuhan memberkati.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC).













Amin. Terimakasih banyak 🙏❤️🙏