Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Sengsara Salib Tidak Dapat Dilepaskan dari Peristiwa Kebangkitan

22
×

Sengsara Salib Tidak Dapat Dilepaskan dari Peristiwa Kebangkitan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan.

Sengsara Salib Tidak Dapat Dilepaskan dari Peristiwa Kebangkitan

(Hari Minggu Prapaskah II, 1 Maret 2026)

Bapa, Ibu, saudara dan saudariku sekalian, kita memasuki pekan kedua Prapaskah dengan merayakan Ekaristi Kudus ini.

Kita semua diajak untuk merenungkan dan menyadari kembali dalam iman bahwa sengsara salib tidak dapat dilepaskan dari peristiwa kebangkitan.

Sejak Bapa Abraham, Putra yang dijanjikan itu memang dinanti-nantikan. Banyak nabi yang meramalkan dan banyak tokoh yang melambangkan, tetapi akhirnya Ia datang dalam diri Yesus Kristus.

Dialah Putra terkasih yang mencerminkan hidup dan hubungan dalam Tritunggal (bdk. Mat. 17:1-9).

Roh dalam lambang awan menaungi Yesus, dan suara Bapa dari langit bersabda, “Inilah Putra-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Kata “dengarkanlah Dia” ditambahkan pada pewahyuan pertama di tepi Sungai Yordan.

Yesuslah pembaru Perjanjian Baru yang menggantikan Musa. Ia melengkapi ajaran para nabi seperti Elia.

Bersama mereka, Yesus membicarakan penggenapan perjanjian dalam kurban salib, melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya di Yerusalem.

Penggenapan hidup Yesus berarti sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Maka, kegenapan hidup kristiani hanya dapat dilalui lewat sengsara dan kebangkitan.

Dalam kemuliaan di Tabor dibicarakan kesengsaraan salib, tetapi sengsara salib tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kebangkitan.

Sadarlah bahwa pengertian kita tentang hidup kristiani masih dangkal jika kita tidak mau dan tidak berani menatap kenyataan salib dan sengsara dalam hidup kita.

Sakit dan sengsara tidak diberikan untuk mengganggu dan melumpuhkan kita. Justru melalui itu kita diikutsertakan dalam sengsara Yesus dan diarahkan kepada kebenaran hidup yang berbobot dan berarti, yaitu hidup sejati yang dijiwai oleh Yesus melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Bapa, Ibu, saudara dan saudari sekalian, jika iman kita seperti iman Abraham, bapa leluhur kita, kita akan menjadi lebih sanggup menjalani hari-hari tobat di pekan kedua Prapaskah ini.

Kita tidak lagi menghindar dan lari, tetapi berani menatap kenyataan salib dan sengsara dalam hidup kita.

Seperti dalam imannya yang teguh, Abraham berani pergi meninggalkan segala sesuatu hanya untuk mengikuti petunjuk Tuhan (bdk. Kej. 12:1-4a).

Dengan iman yang sama, para rasul meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus. Dengan iman yang sama pula, umat Allah meneruskan perjalanannya, dan iman itulah yang memimpin kita kepada kebenaran.

Hanya iman yang kokoh yang dapat meyakinkan kita bahwa sakit dan sengsara tidak diberikan untuk melumpuhkan, melainkan agar kita dapat ikut serta dalam sengsara Yesus, lalu diarahkan pada kebenaran yang menjadikan hidup ini bermakna.

Hanya iman yang teguh yang menyanggupkan kita merangkul dan memanggul sengsara salib kita, berjalan menuju peristiwa kebangkitan. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *