(Hari Minggu Paskah II – Kerahiman Ilahi, 12 April 2026)
Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian terkasih dalam Kristus.
Kita baru saja merayakan Hari Raya Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, minggu lalu. Masih dipenuhi rahmat Paskah, pada hari ini kita kembali merayakan ‘Pesta Kerahiman Ilahi’, yakni ‘Belas Kasih Tuhan’ bagi seluruh dunia dan bagi kita semua.
Berkaitan dengan Kerahiman Tuhan dan rahmat damai-sejahtera Paskah yang kita terima, kita akan merenungkan sebuah tema ini: “Seperti Berada Dalam Rahim Ibu Sendiri”. Suatu keadaan damai sejahtera yang teramat sangat!
Untuk dapat merayakan pesta Kerahiman Ilahi, kita telah mempersiapkan diri, pertama-tama dengan bersama-sama berdoa ‘Novena Kerahiman Ilahi’, mulai di hari Jumad Agung, wafat Yesus, 3 April sampai dengan 11 April 2026.
Kita ingat dan sadar akan sabda Tuhan Yesus yang memanggil kita (melalui hamba-Nya Santa Faustina): “Aku menghendaki agar selama sembilan hari ini, engkau membawa jiwa-jiwa ke mata air kerahiman-Ku supaya mereka menimba dari sana kekuatan dan kesegaran serta rahmat apapun yang mereka butuhkan dalam menghadapi kerasnya hidup dan khususnya pada saat kematian….” (BHSF 1209).
Mengapa ‘Belas Kasih Tuhan’ itu disebut ‘Kerahiman Tuhan’ atau “Kerahiman Ilahi”? Kata ‘Belas Kasih’ itu, dalam bahasa Ibrani disebut: ‘rahamin’.
Kalau bahasa Latinnya: misericordia, Yunani: heleos, dan Inggris: mercy. Perhatikan saja yang bahasa Ibraninya: ‘rahamim’. Kata ini dasarnya dari kata: REHEM, artinya Kandungan atau Rahim.
Orang Ibrani meyakini, bahwa sifat-sifat Allah, belas kasih-Nya itu ternyata serupa dengan ‘sifat rahim’ seorang ibu, yakni: melindungi janin/bayinya, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, membawanya ke mana-mana.
Maka muncullah istilah ‘Kerahiman Ilahi’, yakni Belas Kasih Allah yang melindungi manusia, menghidupinya, menghangatkannya, memberi pertumbuhan, menjaganya, menerimanya apa adanya, tanpa syarat, dan membawa ke mana-mana. Memang sangat serupa dengan ‘sifat rahim’ seorang ibu.
Nabi Yesaya pernah berucap: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15).
Memang tidak selalu seorang perempuan bisa melupakan anak dari kandungannya. Tetapi kadang-kadang ada juga. Ada yang membuang bayinya, ada juga yang malahan membunuhnya. Biarpun demikian ‘rahim’ dari para perempuan yang bisa melupakan anak kandungnya itu, tetaplah suci, karena sifat dan perannya seperti sifat dan peran Allah sendiri bagi manusia.
Para murid yang waktu itu masih dilanda ketakutan dan kekuatiran, didatangi oleh Tuhan Yesus yang bangkit. Dia menampakkan Diri-Nya dan membagikan kepada mereka “Buah Paskah”, yakni “Damai Sejahtera” (bdk Yoh 20:19-31). Sapaan-Nya yang menyejukkan hati para murid: “Damai bagi kamu!”. Tiga kali Dia menyapa ‘Damai bagi kamu!’ (ay 19, 21, 26). Para murid yang saat itu masih sangat ragu, kalut dan takut, dipulihkan, diberi kelegaan dan kepastian, lalu dikuatkan dan diberanikan untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan-Nya.
“Damai sejahtera” yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus itu demikian luar biasa dan dasyat dampaknya dan pengaruhnya bagi hidup para murid-Nya. Mereka mengalami belas kasih Allah yang tiada tara, tanpa batas.
Allah itu sungguh maharahim atas hidup dan kesaksian mereka. Pengalaman mengalami kerahiman Allah yang demikian itu, seolah “SEPERTI BERADA DALAM RAHIM IBU SENDIRI”. Benar-benar damai sejahtera, lahir dan batin, tiada tara!
Menurut Paus Yohanes Paulus II, dunia kita ini membutuhkan Kerahiman Ilahi. Karena dunia ini ada dalam kondsisi “tidak baik-baik saja”. Ada pelbagai penderitaan yang sedang menimpa: ketidakadilan, perang (yang sedang terjadi di timur tengah saat ini), dendam, perendahan martabat manusia dan lainnya.
Tentu saja kondisi ‘tidak baik-baik saja’ ini termasuk juga bangsa kita, daerah dan Paroki kita. Malahan juga mungkin kondisi itu kini melanda keluarga-keluarga kita sendiri. Makanya seluruh dunia dan kita semuanya sangat membutuhkan Kerahiman Ilahi!
Kerahiman Ilahi dibutuhkan untuk dapat “mengubah pikiran dan hati kita” agar bisa mengarahkan kembali tujuan hidup kita pada upaya menegakkan “Damai Sejahtera” dalam kebersamaan dengan orang-orang lain. Tidak hanya sibuk mengurus diri sendiri, kelompok sendiri, keluarga dan kepentingan sendiri!
Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian… Tuhan Yesus hendak memberikan “Buah Paskah”, Damai Sejahtera itu kepada kita semua juga saat ini.
Melalui Suster Faustina, Yesus bersabda: “Bawalah kepada-Ku seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa, dan benamkanlah mereka ke dalam samudera Kerahiman-Ku…” (bdk BHSF 1210). Yesus harapkan supaya manusia itu sungguh “dibenamkan” di dalam Kerahiman-Nya, artinya benar-benar mengalami belas kasih berlimpah, tanpa batasnya. Bukan sedikit-sedikit.
Setiap kita, apa pun situasi dan kondisi hidup kita saat ini, berdosa atau tidak, semua diperhitungkan oleh Yesus untuk dapat memperoleh dan mengalami Kerahiman Allah itu, menikmati kondisi luar biasa, “Seperti Berada Dalam Rahim Ibu Sendiri!
Supaya harapan mulia itu terjadi, Tuhan juga menuntut usaha dari pihak kita, manusia. Kita harus rela ikhlas membiarkan pikiran dan hati kita “diubahkan” oleh Kerahiman Ilahi-Nya. Karena dengan cara demikian, dasar dan tujuan hidup kita selanjutnya terarah hanya kepada “Damai Sejahtera” dalam kebersamaan. Lalu hidup kita ini bisa menjadi berkat bagi orang lain. Hidup orang lain bisa menjadi berkat bagi kita. Hidup kita bersama-sama bisa menjadi berkat bagi dunia (bdk Kis. 2:42-47).
Jikalau terjadi seperti itu, sadarlah dan yakinlah, bahwa oleh Kebangkitan Yesus Kristus, Allah telah melahirkan kita kembali dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (bdk 1 Ptr 1:3-9). Damai Sejahtera bagi kita semua! Aminnnn.
Tuhan Berkati Kita Semua
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)












Semoga hidup kita bersama keluarga keluarga kita di Berkati dipulihkan dan jauh dari kegelisahan di tengah dunia yg sedang tidak baik baik saja ini.Amin
Terimakasih renungan nya pastor. Semakin baik kehidupan kita dalam iman karena kerahiman Allah.
Semoga Kita , diri kita sendiri menjadi berkat di antara sesama kita. Kasi kristus menguatkan kita dalam perjalanan hidup ini karena di dunia vana penuh tantangan dan godaan maka sllu bersyukur dalam hal apapun tym Amin.