Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Akulah Dia, Mata Air Hidup yang Kekal

1
×

Akulah Dia, Mata Air Hidup yang Kekal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan.

Bapak, ibu, saudara dan saudari sekalian. Dalam Misa Kudus ini kita membuka Pekan III Prapaskah. Bersama dengan seorang wanita Samaria (bdk. Yoh 4:5–42), juga bangsa Israel yang kehausan (bdk. Kel 17:3–7).

Kita semua diajak untuk merenungkan dan menyadari kembali bahwa Yesus, Sang Mata Air Hidup yang Kekal itu, bisa saja saat ini berada di depan mata kita, dalam diri orang yang berbicara dengan kita atau juga dalam diri kita sendiri.

Percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu hanyalah salah satu pembicaraan yang dilakukan Yesus.

Percakapan itu akhirnya menghantar wanita tersebut pada kesadaran dan pengakuan akan kedudukan Yesus sebagai Mesias. Dalam iman, ia menyerahkan dirinya kepada-Nya.

Pembicaraan seperti dengan wanita Samaria itu juga terjadi dengan Nikodemus (Yoh 3:1–21), dengan orang buta (Yoh 9:1–41), dengan Maria dan Marta (Yoh 11:1–44), dengan Zakheus (Luk 19:1–10), dan lain-lain.

Dari pengalaman pembicaraan Yesus dengan orang-orang itu, kita menjadi lebih sadar bahwa bukan pertama-tama manusia yang mencari Yesus.

Sebaliknya, Yesuslah yang selalu menunggu di mana-mana untuk memberikan keselamatan kepada manusia.

Kepada siapa saja, di mana saja, kapan saja, setiap waktu Yesus memberi warta gembira. Artinya, saat ini Yesus juga memberi warta gembira bagi kita.

Ketika awal berbicara dengan Yesus, wanita Samaria itu tidak sadar dan sama sekali tidak tahu bahwa yang berbicara dengannya adalah Yesus sendiri.

Ia berbicara tentang Kristus, Mesias yang akan datang, seorang pribadi yang berada jauh di sana. “Aku tahu bahwa Mesias, yang juga disebut Kristus, akan datang. Apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami” (ay. 25). Padahal Mesias itu ada di depan matanya dan sedang berbicara dengannya.

Maka kata Yesus: “Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!” (ay. 26). Kepada wanita itu Yesus menegaskan bahwa diri-Nya adalah Mata Air Hidup yang Sejati, yang memancar sampai kepada hidup yang kekal (ay. 14).

Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian. Yesus menunggumu, menunggu kita masing-masing, tidak hanya di dalam Gereja, tetapi di mana-mana dan pada setiap kesempatan.

Di rumah tempat tinggal kita, di tempat kerja, dan di berbagai tempat lainnya. Yesus tidak hanya hadir dalam diri para pejabat, aktivis, atau umat di Gereja, tetapi juga dalam diri siapa saja dan di mana saja. Ia tidak bisa dibatasi.

Terlebih lagi dalam diri orang-orang miskin dan hina. Yesus sendiri berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Sering kali kita terlibat dalam percakapan dengan sesama, entah di rumah, di tempat kerja, atau di tempat lain.

Kita berbicara mengenai banyak hal, termasuk tentang kasih dan kebaikan, juga tentang keyakinan dan iman kita. Artinya, kita berbicara mengenai seorang tokoh dari zaman dahulu, yakni Yesus Sang Mesias itu, Dia yang sanggup memberikan kita mata air hidup yang kekal.

Seperti wanita Samaria, kita juga sering kali tidak menyadari bahwa bisa saja pada saat itu Yesus sendiri berada di depan mata kita, dalam diri orang yang sedang berbicara dengan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.“Akulah Dia, Mata Air Hidup yang Kekal itu.”

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Semoga pengakuan dan pengalaman iman wanita Samaria itu, mulai hari ini dan seterusnya, menginspirasi serta menyadarkan kita akan kasih dan kebaikan Allah ini (bdk. Rm. 5:1–2.5–8).

Apabila kita semakin menyadari dan percaya akan pengalaman iman wanita Samaria itu, kita pun seharusnya menjadi lebih sadar dan waspada dalam iman.

Percakapan dengan pasangan hidup (istri atau suami), anak-anak, anggota keluarga, teman, rekan kerja, atau siapa pun, yang selama ini terasa biasa-biasa saja, bahkan sering hanya basa-basi, kini perlu kita jalani dengan lebih sungguh-sungguh.

Kita diajak untuk lebih menghargai dan menghormati sesama dalam setiap percakapan. Sebab sangat mungkin Yesus, Sang Mesias itu, hadir di dalam interaksi dan percakapan tersebut.

“Akulah Dia, Mata Air Hidup yang Kekal itu.” Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *