Berdoa dan berpuasa seperti Yesus
(Hari Minggu Prapaskah I, 22 Februari 2026)
Bapa, Ibu, Saudara, dan Saudari terkasih, kita memasuki Minggu Prapaskah I. Melalui Misa Kudus ini, kita memohon tuntunan Allah Roh Kudus agar senantiasa menyertai dan membimbing kita dalam upaya pertobatan masing-masing.
Yesus sendiri yang tidak berdosa, didorong oleh Roh, masuk ke padang gurun untuk menghadapi godaan Iblis, penyebab dosa.
Ia menghadapinya dengan berdoa dan berpuasa. Dengan cara itu Ia mengalahkan Iblis (bdk. Mat. 4:1–11).
Berdoa dan berpuasa seperti Elia, seperti Musa, dan seperti Yesus tidak berarti membuktikan suatu prestasi. Sikap demikian adalah kesombongan dan tidak sesuai dengan semangat kerendahan hati yang harus menjiwai puasa dan doa.
Yesus tidak membebaskan diri dari tuntutan kodrat manusia. Justru untuk merasakan sepenuhnya kehidupan manusia, Ia menjelma dan kemudian berpuasa.
Ia tidak makan dan tidak minum, sebab Ia dipuaskan oleh santapan rohani: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa.”
Inilah inti pokok puasa Kristiani: berpuasa sambil terus berdoa dan berusaha agar kehendak Bapa terlaksana dalam hidup kita.
Situasi hidup sering kali tidak menyediakan suasana tenang yang memungkinkan orang berpuasa tanpa gangguan. Namun, orang yang berpuasa tetap berani bertapa di tengah keramaian, berdoa di tengah kesibukan kerja, serta menemukan keheningan di tengah tantangan dan godaan.
Demikianlah puasa Kristus sendiri. Setelah selesai perjuangan-Nya, Ia dilayani oleh para malaikat.
Kita pun percaya bahwa Tuhan menghadirkan para malaikat sebagai pendamping dalam perjalanan hidup kita. Seperti Yesus Kristus, kita berupaya berdoa dan berpuasa selama masa pertobatan ini.
Dalam hidup manusia ada dosa. Dosa memutuskan dan merusak hubungan manusia dengan Allah, bahkan mengakibatkan maut.
Kitab Kejadian dengan jelas menyatakannya (bdk. Kej. 2:7–9; 3:1–7). Namun, Rasul Paulus juga menegaskan bahwa selalu ada jalan kembali melalui pertobatan dan penebusan dalam Kristus.
Karena sikap Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa, seluruh umat manusia turut berdosa. Rasul Paulus membandingkannya dengan karya Adam baru, yaitu Yesus Kristus.
Jika karena dosa semua orang harus mati, maka dalam Kristus semua orang memperoleh rahmat dan kehidupan.
Ketaatan Putra Allah telah memperbaiki ketidaktaatan manusia (bdk. Rm. 5:12–19). Sebab itu Paulus berkata, “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.”
Amin.
Selamat berdoa dan berpuasa.
Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)
