Jakarta, KV— Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) pada Desember 2025 mencapai 2,92 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,92. Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh meningkatnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,58 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,33 persen.
“Tekanan inflasi masih didominasi oleh komoditas pangan dan kebutuhan harian masyarakat,” kata Pudji, Senin (5/1/2026).

Secara wilayah, inflasi y-on-y tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Aceh sebesar 6,71 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen.
Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli dengan 10,84 persen.
BPS mencatat sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, bensin, serta emas perhiasan.
Sementara itu, beberapa komoditas seperti tomat, bawang putih, dan tarif kereta api justru memberikan andil deflasi.
Pada Desember 2025, inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,64 persen, sedangkan inflasi year-to-date (y-to-d) juga berada di angka 2,92 persen. Inflasi inti tercatat stabil dengan inflasi y-on-y sebesar 2,38 persen. (Redaksi)












