OPINI

Kematian sebagai “Jalan” untuk Menghasilkan Buah Banyak

49
Ilustrasi renungan

Kematian sebagai “Jalan” untuk Menghasilkan Buah Banyak
(Hari Minggu Prapaskah V, 22 Maret 2026)

Bapa, Ibu, serta Saudara-saudari terkasih, kita memasuki pekan kelima Prapaskah dengan membukanya melalui Perayaan Ekaristi.

Kita diajak merenungkan sesuatu yang kerap dianggap menantang dan menakutkan, yakni peristiwa kematian, dalam tema: “Kematian sebagai Jalan untuk Menghasilkan Buah Banyak.”

Sampai hari ini, banyak orang takut akan kematian, mungkin termasuk kita juga. Kematian sering dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan dan menakutkan untuk dibayangkan.

Padahal, kematian adalah sebuah “jalan tempuh”, sebuah proses yang memungkinkan hukum kehidupan berlangsung: siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, harus kehilangan nyawanya.

Seseorang harus “mati” untuk dapat hidup; harus kehilangan nyawanya untuk menyelamatkannya. Inilah hukum yang diajarkan oleh Yesus Kristus.

Sabda-Nya: “Sesungguhnya, jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24).

Dengan demikian, “jalan kemuliaan” bagi Yesus adalah jalan sengsara, salib, dan kematian. Itulah satu-satunya jalan menuju kemuliaan sejati. Tidak ada jalan lain. Jalan ini pula yang harus ditempuh oleh setiap orang yang ingin mengikuti jejak-Nya.

Peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus beberapa hari sebelum pekan sengsara-Nya merupakan pralambang kemenangan-Nya atas maut. Bagi kita, peristiwa ini menjadi tanda pengharapan akan jaminan hidup baru dalam Kristus.

Kematian yang biasanya menakutkan ternyata, dalam Yesus Kristus, memperoleh makna baru: kesempatan untuk mengalami kasih Bapa secara lebih mendalam.

Jalan yang ditawarkan Yesus tampaknya tidak dapat dikompromikan. Namun, sebagai manusia, kita sering memiliki keinginan agar jalan itu dipermudah.

Kita berharap jalan tersebut tidak terlalu berat, tidak terlalu panjang, dan kalau bisa, penuh kenyamanan. Kita pun bertanya, adakah jalan pintas yang lebih mudah untuk sampai ke tujuan?

Ketika Yesus mengundang setiap orang untuk memikul salib dan mengikuti-Nya, sering kali kita justru tidak mau mendengarkan.

Kita lebih memilih berjalan menurut kehendak sendiri, mencari jalan yang nyaman dan menyenangkan. Kita mengaku mengikuti Yesus, tetapi dalam kenyataan hidup, kita tidak meneladani jalan-Nya.

Jalan Yesus adalah jalan “kematian” yang menghasilkan banyak buah, sedangkan jalan kita sering kali hanya mencari kenikmatan tanpa menghasilkan apa-apa.

Bapa, Ibu, serta Saudara-saudari terkasih, jika saat ini kita berada di “jalan yang nyaman”, marilah kita sadar dalam masa tobat ini bahwa kita sedang menyimpang dari “hukum kehidupan” yang menuntut adanya “kematian” sebagai jalan menuju pertumbuhan dan keberhasilan yang sejati.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Dalam kondisi demikian, kita menjadi kurang peka dan kurang bermanfaat bagi sesama.Keadaan ini menggambarkan hidup kita seolah-olah berada dalam kubur yang tertutup rapat—hidup tanpa harapan.

Namun, firman Tuhan melalui nubuat Yehezkiel (Yeh 37:12–14) menguatkan kita: “Hai umat-Ku! Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya” (ayat 12).

Rasul Paulus juga memberikan pengharapan besar: “Jika Kristus ada di dalam dirimu, maka tubuhmu memang mati karena dosa, tetapi rohmu hidup karena kebenaran.

Dan jika Roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam dirimu, maka Ia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana oleh Roh-Nya yang diam di dalam dirimu” (Roma 8:10–11).

Amin. Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

Exit mobile version