Meneladani “Sisa Israel” yang Rendah Hati
(Minggu Biasa IV, 1 Februari 2026)
Bapa, ibu, saudara, dan saudari yang terkasih. Dalam Misa Kudus Minggu Biasa IV ini, kita diajak untuk merefleksikan tema: Meneladani “Sisa Israel” yang Rendah Hati.
Mendengar kata “sisa”, secara refleks banyak orang—mungkin juga kita—langsung membayangkan sesuatu yang kurang penting.
Sisa sering dipahami sebagai sesuatu yang terbuang, tak menarik, atau tak layak diperhitungkan.
Jika yang dimaksud adalah manusia, sisa kerap dilekatkan pada mereka yang tersisih, dilupakan, atau dimarginalkan.
Namun “Sisa Israel” sebagaimana disampaikan oleh Nabi Zefanya (bdk. Zef 2:3; 3:12–13) justru menyimpan nilai yang sangat luhur.
Sisa Israel menunjuk pada bagian kecil dari bangsa Israel yang tetap bertahan setelah melewati masa pencobaan, pembuangan, dan penganiayaan.
Mereka memang sedikit jumlahnya, tetapi tetap setia. Mereka menjadi bijaksana karena ditempa oleh pengalaman hidup yang pahit.
Mereka hanya berlindung kepada Tuhan, dan Tuhan sungguh memperhatikan serta mengasihi mereka.
Tuhan membentuk Sisa Israel menjadi bangsa yang melakukan hukum-Nya, mencari keadilan, dan hidup dalam kerendahan hati.
Mereka tidak melakukan kelaliman dan tidak berbicara bohong. Dalam mulut mereka tidak terdapat lidah penipu. Di sanalah tercipta suasana kelemahlembutan dan kedamaian.
Nabi menggambarkannya indah: “Mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tenang, tanpa ada yang mengganggu” (Zef 3:13).
Jika kita sungguh ingin meneladani Sisa Israel, maka kita juga diajak untuk menghidupi nilai-nilai tersebut.
Kerendahan hati, kejujuran, keadilan, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Semua itu ditempa melalui penderitaan, pencobaan, dan pengalaman hidup yang tidak mudah.
Sisa Israel telah belajar bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Luka-luka batin mereka—rasa kecewa, sakit hati, dan air mata—dihapus Tuhan melalui rahmat-Nya.
Bahkan, Tuhan memperbarui mereka, menjadikan mereka pribadi-pribadi yang mampu hidup dalam kedamaian dan kelemahlembutan.
Dalam Injil hari ini (Mat 5:1–12a), Yesus menyapa dengan kelembutan mereka yang miskin, berdukacita, lapar dan haus akan kebenaran, menangis, dan dianiaya.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus meletakkan dasar ajaran Kerajaan Allah. Ia menunjukkan kuasa Allah yang membebaskan, meskipun jalan yang Ia tempuh penuh tantangan dan permusuhan.
Karena itulah Mahatma Gandhi pernah menganggap Sabda di Bukit sebagai ajaran kesempurnaan yang melampaui batas agama.
Sementara itu, Santo Fransiskus dari Asisi dan para kudus Gereja melihat Sabda Bahagia sebagai jalan hidup Injil, yang membebaskan manusia dari keterikatan duniawi yang berlebihan, dan menuntun kepada nilai-nilai surgawi.
Barangkali hingga hari ini, masih ada luka-luka yang tersimpan dalam hati dan pikiran kita. Luka karena ketidakadilan, penolakan, perlakuan tidak manusiawi, atau pengalaman pahit lainnya.
Hari ini, kita diajak untuk meneladani Sisa Israel: dengan rendah hati bersandar dan berlindung kepada Tuhan saja. Mari kita mohon agar Tuhan menyembuhkan luka-luka itu dan memperbarui hidup kita.
Seperti Sisa Israel, semoga Tuhan membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati, setia pada hukum-Nya, selalu mencari keadilan, dan hidup dalam damai.
Dengan demikian, kita mampu bersaksi lebih baik di tengah masyarakat, sesuai dengan kehendak Tuhan.
Amin.
Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC).












