Pasang Iklan Disini
Pasang Iklan Disini
OPINI

Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain

164
×

Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain

Sebarkan artikel ini
Paus Leo XIV menyapa dan memberkati seorang anak yang duduk di kursi roda, menghadirkan kasih, harapan, dan belarasa Gereja bagi mereka yang lemah dan menderita.

Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain. (Renungan pada Misa Kudus HOSS, 11 Februari 2026)

Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian,
hari ini adalah hari yang istimewa. Pada tanggal 11 Februari 2026, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) ke-134.

Pada hari ini, Gereja mengajak kita semua untuk mendoakan saudara-saudari kita yang sedang sakit: mereka yang dirawat di rumah sakit, yang tinggal di panti wreda, maupun yang terbaring sakit di rumah-rumah mereka.

Kita juga mendoakan mereka yang dengan setia melayani dan merawat orang sakit setiap hari: para suster, dokter, perawat, karyawan dan karyawati rumah sakit, serta semua pihak yang terlibat dalam karya pelayanan kasih ini.

Pada peringatan HOSS tahun ini, Paus Leo XIV mengajak kita merenungkan tema: “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain.”

Tema ini menuntun kita untuk bercermin dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh mengasihi sesama yang sakit dengan cara ikut menanggung derita mereka, seperti yang diteladankan oleh orang Samaria yang murah hati (bdk. Luk 10:25–37).

Dalam Misa Kudus ini, secara khusus kita mendoakan orang-orang sakit di sekitar kita, di Paroki Cicadas, Bandung: oma-oma tercinta di Panti Wredha Nazaret, para pasien di Rumah Sakit Santo Yusuf, serta mereka yang sedang sakit dan dirawat di rumah masing-masing.

Kita juga mendoakan semua orang yang dipakai Tuhan untuk melayani mereka hingga hari ini.

Menanggung derita sendiri adalah hal yang biasa. Tanpa diminta pun, manusia akan berusaha memikul penderitaannya sendiri. Namun menanggung derita orang lain, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati, tidak terjadi secara otomatis.

Sikap ini perlu diusahakan, dilatih terus-menerus, hingga menjadi kebiasaan hidup dan bagian dari kesadaran iman kita.

Dalam Injil Markus (Mrk 7:14–23), Yesus menegaskan bahwa hati dan pikiran yang suci dan bersih akan melahirkan kebaikan, membawa kesegaran dan kesehatan bagi hidup manusia.

Sebaliknya, hati dan pikiran yang jahat mendatangkan kesengsaraan, bahkan penyakit dan penderitaan. Karena itu Yesus mengingatkan kita semua agar senantiasa menjaga dan merawat hati serta pikiran kita.

Dalam penghayatan iman, baik yang berada di luar tubuh maupun yang ada di dalam diri manusia harus diabdikan kepada Tuhan. Namun sering kali terjadi kekacauan dalam memahaminya.

Melalui Injil hari ini, Yesus memberi batas yang jelas: apa yang masuk dari luar ke dalam tubuh tidak menajiskan seseorang, karena tidak masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perut dan akhirnya dibuang (ay. 19). Yang sungguh menajiskan manusia justru apa yang keluar dari dalam dirinya, sebab berasal dari hati.

Dari sanalah muncul pikiran jahat, rasisme, percabulan, pencurian, pembunuhan, iri hati, kelicikan, hujat, kesombongan, dan berbagai kejahatan lainnya (ay. 21–22).

Semua ini bukanlah hal yang dibuat-buat, melainkan kenyataan yang kita alami dalam hidup sehari-hari.

Kejahatan-kejahatan ini tidak hanya menajiskan, tetapi juga meracuni kehidupan banyak orang.

Semua perbuatan manusia berawal dari hati, bertumbuh menjadi pikiran, lalu menjelma dalam tindakan yang membentuk sikap hidup dan menentukan arah kehidupan.

Jika hati bersih dan suci, maka yang keluar dari diri kita pun akan membawa kebaikan. Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, dengki, dan kejahatan, maka itulah yang akan terpancar dalam perbuatan kita.

Saudara dan saudari terkasih, marilah kita dengan sadar menjaga dan merawat hati kita agar tetap suci dan bersih, jauh dari dosa.

Dengan demikian, kita menjadi sarana yang pantas dipakai Tuhan untuk menghadirkan kebaikan dan keselamatan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama.

Terutama bagi saudara-saudari kita yang kita doakan hari ini: mereka yang sakit, para lansia dan orang-orang sepuh.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Kita tidak dipanggil Tuhan untuk sekadar menjadi penonton penderitaan mereka, melainkan untuk mengasihi mereka dengan ikut menanggung derita mereka.

Inilah teladan orang Samaria yang murah hati. Ia mampu melakukan tindakan kasih itu karena hatinya baik, murni, dan bebas dari kepentingan diri yang menyesatkan.

Jika kita sungguh ingin mengasihi oma-oma kita di panti wreda, para pasien di Rumah Sakit Santo Yusuf, serta saudara-saudari kita yang sakit di rumah-rumah, marilah kita mulai dengan membersihkan hati kita.

Singkirkan iri, dendam, kenajisan, dan segala kepentingan egois, agar kasih dapat mengalir dengan lebih tulus.

Dengan hati yang bersih, kita akan semakin mampu mengasihi seperti orang Samaria yang murah hati. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *