PapuaPENDIDIKAN

Papua Luncurkan Program Sarjana Kehutanan dan Ekonomi Bisnis Adat

0
×

Papua Luncurkan Program Sarjana Kehutanan dan Ekonomi Bisnis Adat

Sebarkan artikel ini
peluncuran Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat di Universitas Ottow Geissler Papua dan Sarjana Ekonomi Bisnis Adat di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Senin (10/8/2026).

Jayapura, KV – Pendidikan tinggi berbasis masyarakat adat mulai dikembangkan di Tanah Papua melalui peluncuran Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat dan Sarjana Ekonomi Bisnis Adat.

Kedua program tersebut diluncurkan pada Senin (10/8/2026) dan menjadi bagian dari upaya membangun generasi baru masyarakat adat yang mampu memimpin, mengelola wilayah adat, serta mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat adat.

Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat dikembangkan Universitas Ottow Geissler Papua (UOG), sedangkan Program Khusus Sarjana Ekonomi Bisnis Adat dikembangkan Universitas Cenderawasih (Uncen).

Peluncuran kedua program pendidikan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang pembentukan dan pengembangan Ekosistem Pendidikan untuk Kepemimpinan, Pengelolaan Wilayah Adat, dan Ekonomi Adat melalui Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) di Tanah Papua.

Penandatanganan berlangsung di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih dan melibatkan Uncen, UOG, Mitra BUMMA, Yayasan Menoken Membumi Membumma, Yayasan EcoNusa, serta Koalisi Ekonomi Membumi (KEM).

MoU tersebut menjadi landasan untuk membangun ekosistem pendidikan yang menghubungkan perguruan tinggi, wilayah adat, BUMMA, penelitian, magang, pembelajaran berbasis pengalaman, serta pengembangan kepemimpinan.

Ekosistem itu dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat adat di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang semakin kompleks.

Selama ini, masyarakat adat telah memiliki pengetahuan dan sistem pengelolaan wilayah yang diwariskan lintas generasi. Namun, perubahan zaman membutuhkan generasi baru yang mampu mempertemukan pengetahuan adat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola, dan ekonomi modern.

Karena itu, kedua program sarjana tersebut tidak dirancang seperti program studi konvensional. Mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan pengelolaan wilayah adat, pengembangan BUMMA, ekonomi adat, serta keberlanjutan hutan dan sumber daya alam.

Proses pembelajaran juga tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Mahasiswa akan belajar langsung di wilayah adat, bersama masyarakat, serta melalui praktik di BUMMA sebagai bagian dari pengalaman pendidikan.

CEO Mitra BUMMA Ambrosius Ruwindrijarto.

CEO Mitra BUMMA Ambrosius “Ruwi” Ruwindrijarto mengatakan, perlindungan wilayah adat membutuhkan generasi pemimpin masyarakat adat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kelembagaan untuk mengelolanya.

“Program ini bukan sekadar membuka program pendidikan baru, tetapi membangun sebuah ekosistem yang lahir dari kebutuhan masyarakat adat sendiri—menghubungkan kampus dengan BUMMA dalam satu proses belajar yang utuh,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan UOG Efraim Mangaluk mengatakan Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat membawa perspektif baru dalam pendidikan kehutanan di Indonesia.

Menurut dia, program tersebut diarahkan untuk melahirkan lulusan yang menguasai ilmu kehutanan modern dengan tetap berlandaskan pengetahuan adat, hukum adat, tata kelola wilayah adat, dan kepemimpinan masyarakat adat.

“Kami ingin melahirkan lulusan yang menguasai ilmu kehutanan yang modern, tetapi berlandaskan pada pengetahuan adat, hukum adat, governance wilayah adat, dan kepemimpinan masyarakat adat,” ujarnya.

Bangun Ekosistem

Dalam kerja sama tersebut, Uncen akan mengembangkan pendidikan tinggi di bidang Ekonomi Adat dan Akuntansi Masyarakat Adat. Sementara itu, UOG mengembangkan pendidikan tinggi di bidang Kehutanan Adat.

Peluncuran program pendidikan adat — Perwakilan perguruan tinggi, masyarakat adat, dan mitra BUMMA menghadiri peluncuran Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat di Universitas Ottow Geissler Papua dan Sarjana Ekonomi Bisnis Adat di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Senin (10/8/2026).

Mitra BUMMA berperan mendampingi pengembangan BUMMA dan menghubungkannya dengan perguruan tinggi serta berbagai organisasi pendukung ekonomi adat.

Yayasan Menoken Membumi Membumma memperkuat kaderisasi dan pembelajaran berbasis pengalaman. Adapun Yayasan EcoNusa mengoordinasikan ekosistem organisasi pendukung ekonomi adat dan BUMMA.

EcoNusa juga menjadi tuan rumah dan koordinator Menoken Business Academy (MBA), yang dikembangkan untuk mempersiapkan kepemimpinan dan kewirausahaan generasi muda Papua.

Sementara itu, Koalisi Ekonomi Membumi mendukung pengembangan kurikulum, mentor, metode pembelajaran, dan jejaring praktisi.

Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M), Piter Roki Aloisius.

Peluncuran program tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2026. Momentum itu menegaskan pentingnya investasi pendidikan dan kepemimpinan generasi muda masyarakat adat sebagai bagian dari perlindungan wilayah adat dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Kegiatan dihadiri perwakilan masyarakat adat dari berbagai wilayah di Tanah Papua, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Pemerintah Provinsi Papua, pimpinan perguruan tinggi, lembaga adat, organisasi masyarakat sipil, BUMMA, mitra pembangunan, donor, serta media.

Ke depan, para pihak menargetkan ekosistem pendidikan tersebut dapat menjadi model pendidikan tinggi berbasis masyarakat adat yang dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia hingga kawasan Pasifik.

Melalui perpaduan ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan dan praktik adat, program tersebut diharapkan melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjaga wilayah adat, memperkuat kelembagaan masyarakat adat, mengembangkan BUMMA, serta membangun ekonomi yang adil, lestari, dan berdaulat.

Perwakilan Universitas Cenderawasih, Universitas Ottow Geissler Papua, Mitra BUMMA, Yayasan Menoken Membumi Membumma, Yayasan EcoNusa, dan Koalisi Ekonomi Membumi menandatangani MoU pengembangan ekosistem pendidikan untuk kepemimpinan, pengelolaan wilayah adat, dan ekonomi adat melalui BUMMA, Senin (10/8/2026).

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uncen Otniel Safkaur mengatakan ekonomi adat tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga mencakup nilai, kelembagaan, pengetahuan, dan tata kelola masyarakat adat.

“Program Khusus Sarjana Ekonomi Bisnis Adat dirancang untuk melahirkan generasi baru pengelola BUMMA, wirausahawan, akuntan, dan pemimpin ekonomi,” katanya.

Menurut dia, lulusan diharapkan mampu membangun usaha yang kompetitif sekaligus mempertahankan keadilan sosial, budaya, dan keberlanjutan lingkungan. (Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

YOGYAKARTA, KV – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) untuk menempatkan pelayanan dasar pendidikan sebagai prioritas utama. Menurutnya, pendidikan berkualitas adalah fondasi mutlak dalam membangun Sumber…