Renungan II
Teks: Matius 1:18–25; Matius 2:1–12; Yohanes 1:1–18; Matius 2:13–15
Santa Teresa dari Kalkuta berkata, “Kita tidak dapat menempatkan diri kita langsung di hadirat Allah tanpa membuat jiwa dan raga orang miskin bahagia.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa Allah tidak pertama-tama dijumpai dalam kemegahan rumah-Nya, melainkan dalam dunia nyata: dalam ruang dan waktu, dalam kehidupan manusia, khususnya dalam diri mereka yang miskin akan cinta kasih.
Allah tidak dapat ditatap secara langsung, tidak dapat dipegang atau dimiliki. Namun, Ia berkenan menyatakan diri-Nya secara konkret dalam kekinian hidup manusia.
Allah hadir dalam wajah orang-orang sederhana, kecil, terlantar, dan tersisih. Di sanalah Allah menjumpai kita, dan di sanalah pula kita dipanggil untuk menjumpai Allah.
Kepapaan bukan sekadar latar belakang kelahiran Yesus, melainkan substansi kehadiran-Nya. Yesus hadir sebagai being in itself—ada yang sejati dan utuh—sekaligus sebagai being for others, yakni keberadaan yang sepenuhnya diarahkan bagi keselamatan manusia.
Dengan demikian, kepapaan menjadi bentuk nyata dari being-in-totality, keberadaan yang utuh, total, dan tanpa syarat.
Yesus berada dalam kepapaan karena tiga hal mendasar. Pertama, substansi keberadaan-Nya: Ia harus hadir dalam kepapaan, sebab Allah memilih jalan ini sebagai cara menyatakan kasih-Nya.
Kedua, tujuan keberadaan-Nya: Ia berjalan bersama orang-orang kecil, terlantar, dan mereka yang kurang menerima cinta kasih.
Ketiga, totalitas keberadaan-Nya: kasih yang Ia hadirkan adalah kasih yang utuh, sempurna, dan tanpa syarat.
Allah menyatakan diri dalam diri Yesus bukan dalam kemewahan atau kehormatan duniawi, melainkan dalam kenyataan hidup yang keras.
Yesus lahir di desa kecil, dalam keluarga sederhana, di kandang, terancam dibunuh, dan hidup dalam dunia yang penuh risiko dan penderitaan. Kepapaan bukan simbol romantis, melainkan kenyataan hidup yang harus dijalani.
Kelahiran Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tinggal bersama Dia berarti tinggal dalam kepapaan: bersama anak-anak terlantar, orang-orang yang tersingkir, dan mereka yang kurang dicintai. Kekurangan mereka bukan beban, melainkan panggilan untuk melayani.
Peristiwa Sabda menjadi Daging bukanlah angan-angan iman, melainkan kenyataan sejarah demi keselamatan manusia. Inkarnasi, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus adalah realitas konkret. Allah hadir dan bekerja dari bawah menuju puncak, dari kepapaan menuju kepenuhan, dari penderitaan menuju keselamatan.
Sejak awal penciptaan, Allah telah memilih untuk tinggal bersama manusia. Inilah kepastian iman kita: Allah tidak jauh, tetapi dekat; tidak asing, tetapi hadir; tidak hanya dalam ritual, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Natal menegaskan bahwa Allah hadir dalam realitas hidup manusia—dalam kepapaan, penderitaan, dan harapan—untuk menyelamatkan dan memulihkan dunia (bdk. Mat. 1:18–25; 2:13–15; Yoh. 1:1–18).
Kehadiran Allah selalu dinyatakan dalam kesederhanaan. Kesederhanaan itu kita jumpai dalam hidup sehari-hari: dalam tempat yang sederhana, dalam orang-orang yang hidup apa adanya, dan dalam alam ciptaan Allah yang indah.
Allah hadir dalam hal-hal yang biasa, dalam kebiasaan hidup yang kerap kita anggap sepele. Apa yang sering kali tidak mungkin menurut perhitungan manusia justru menjadi mungkin bagi Allah. Hidup berjalan dalam realitas, dan realitas itu menuntut perjuangan.
Hidup memang memerlukan kerja keras dan kesetiaan, sebab kenyataan yang kita hadapi tidak selalu mudah. Namun, di tengah perjuangan itu, iman memberi keyakinan bahwa Allah selalu menyertai kita.
Penyertaan Allah tidak pertama-tama hadir dalam keistimewaan, melainkan dalam kesederhanaan hidup manusia yang terbatas (mortalis).
Kesederhanaan ini menyadarkan kita bahwa hidup bakti—menjadi biarawan atau biarawati—bukanlah jalan menuju kesempurnaan diri atau pencarian nama.
Hidup bakti adalah panggilan untuk melayani Allah dan sesama dalam keterbatasan, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan cinta yang nyata.
Kehadiran Yesus dalam kepapaan merupakan faktisitas keberadaan-Nya dalam temporalitas. Ia sungguh hadir dalam ruang dan waktu manusia.
Kehadiran-Nya bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia, melainkan hadir di dalam aktivitas hidup manusia itu sendiri.
Memahami kesederhanaan dan kepapaan Yesus bukan sekadar mengumpulkan informasi tentang siapa Dia, melainkan menyentuh cara Ia berada.
Ini menyangkut kemampuan kita menangkap kehadiran-Nya dalam kekinian hidup kita sendiri. Kepapaan bukan strategi pastoral, melainkan cara Yesus bereksistensi di dalam dunia.
Yesus hadir dan hidup di tengah kepapaan sebagai jalan keselamatan. Ia lahir dari Maria dalam situasi sederhana, disambut tanpa kemewahan, dan hidup dalam realitas manusia yang rapuh. Dalam kesederhanaan itulah Allah menyatakan kasih-Nya yang besar dan menyelamatkan (bdk. Mat. 1:18–25; 2:1–12).
Natal mengajak kita menemukan Allah bukan dalam hal-hal luar biasa, melainkan dalam kesederhanaan hidup sehari-hari. Di sanalah Allah tinggal, bekerja, dan menyertai kita.
Kepapaan Yesus bukan sekadar kondisi objektif, melainkan cara keberadaan-Nya sebagai subjek. Kepapaan itu berasal dari diri-Nya sendiri dan menjadi tempat pengungkapan kasih Allah yang penuh makna.
Dalam terang ini, kepapaan bukanlah penghalang untuk menikmati hidup. Sebaliknya, kepapaan menjadi ruang kebebasan untuk hidup sebagai persembahan diri kepada Allah dan sesama.
Hidup bakti bukan tentang memiliki banyak hal, melainkan tentang memberikan diri sepenuhnya, meskipun dalam keterbatasan.
Persembahan diri seorang biarawati dapat diserupakan dengan persembahan seorang janda yang memberi dari kekurangannya. Yang dipersembahkan bukan kelimpahan, melainkan seluruh hidup yang ada: waktu, tenaga, kasih, dan keterbatasan.
Allah tidak pernah berhenti menyertai. Ia hadir dalam kelelahan dan pengharapan, dalam kesepian dan sukacita. Kehadiran-Nya menuntut tanggapan, bukan dengan kata-kata kosong, melainkan dengan hidup yang diwartakan.
Kita menanggapi kehadiran Allah dengan menikmati hidup, bukan dalam kenikmatan duniawi, melainkan dalam sukacita melayani. Hidup kita menjadi pewartaan itu sendiri: mewartakan Sabda Allah dengan hidup dan kesaksian (bdk. Mat. 2:1–12).
Dunia kepapaan merupakan fenomena iman yang nyata. Kepapaan bukan ilusi rohani, melainkan realitas konkret yang dialami dan dihidupi. Di sanalah Yesus hadir dan menyatakan diri-Nya.
Hidup religius tidak lepas dari problem: dalam pekerjaan, relasi, bahkan dalam diri sendiri. Namun Allah hadir dalam kejujuran hidup manusia.
Hidup bagaikan gelombang laut: tidak selalu tenang. Panggilan kita bukan untuk lari, melainkan belajar menghadapinya. Maka hidup bakti mengajak kita untuk:
belajar tabah meskipun sakit,
belajar bertahan meskipun berat,
belajar sabar meskipun penantian panjang,
belajar setia meskipun ditinggalkan,
belajar menerima meskipun ditolak,
belajar tersenyum meskipun air mata jatuh.
Sebab Tuhan selalu menyertai perjalanan kita. Ia menghadirkan pelangi di setiap badai, senyuman di balik air mata,
dan berkat di setiap cobaan.
Dalam kesetiaan itulah kita menemukan Allah yang setia pula, yang menyertai kita dalam setiap perjalanan hidup
(bdk. Mat. 2:13–15).
(Pastor Imanuel Tenau, Pr)
