OPINI

Renungan Natal : “Anak-Ku, Engkau, Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”

216
Ilustrasi renungan Hari Raya Natal.

Bapak, ibu, saudara dan saudari sekalian, selamat Hari Raya Natal.

Setelah empat minggu berturut-turut kita menanti sambil mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus—dengan meluruskan jalan hidup dan hati kita yang tak rata dan berliku—pada hari ini Ia datang.

Ia telah lahir dalam kehidupan kita. Gaung suara Allah Bapa sendiri dari surga terdengar jelas melalui pemazmur: “Anak-Ku, Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Mzm 2:7).

Di mana-mana bergema lagu-lagu pujian Natal, di gereja dan di tengah umat, untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.

Berabad-abad lamanya Allah Bapa berbicara kepada manusia melalui para nabi, para utusan-Nya, sebagai pengantara sabda. Namun, ketika saatnya genap dan tiba pada kepenuhan waktu, Allah tidak lagi mengutus pewarta sabda, melainkan Sang Sabda sendiri untuk berbicara.

Dialah pewaris yang berhak menerima segala yang ada, yang atas prakarsa-Nya sendiri dianugerahkan kepada manusia. Dalam ketinggian, hubungan-Nya dengan Bapa begitu erat.

Ia digambarkan sebagai cahaya kemuliaan Allah dan gambaran wujud Allah: dua yang berbeda, namun tak terpisahkan dalam kesatuan. Utusan ini, Sang Sabda, yakni Putra Allah sendiri, lebih tinggi dari segala malaikat. Ia adalah Anak dan Putra Bapa, sekaligus Penguasa semesta (bdk. Ibr. 1:1–6).

Benarlah apa yang dikatakan dalam pembukaan Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Sabda; Sabda itu bersama-sama dengan Allah dan Sabda itu adalah Allah.”

Kata-kata ini bagaikan kilatan cahaya yang membawa kita terbang tinggi menuju hadirat Allah sendiri. Dari sanalah Sang Sabda dinyatakan sebagai Dia yang menjadikan segala sesuatu, sebagai hidup dan terang manusia.

Terang itu datang ke dalam kegelapan, datang kepada dunia sebagai milik kepunyaan-Nya sendiri, namun dunia tidak menerima-Nya.

Di sinilah tampak perendahan diri Sang Sabda dan penolakan yang Ia alami. Namun, kepada semua orang yang menerima-Nya, Ia memberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Cara kelahiran baru dibentangkan melalui kelahiran Sang Sabda ini, yakni bahwa manusia diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, melainkan dari Allah. Dengan kelahiran Yesus, anak manusia dapat menjadi putra Allah (bdk. Yoh. 1:1–18).

Allah Mahatinggi yang jauh di surga kini menjadi dekat, bahkan akrab, dengan manusia di dunia. Nubuat Nabi Yesaya tentang datangnya Emanuel—yang berarti Allah menyertai kita—telah nyata dan terbukti.

Bahkan hidup kita yang sederhana, bukan hidup orang kaya raya, yang sering memikul beban berat, merasa tidak berdaya dan hina, kini terasa hangat dirangkul oleh Yang Mahatinggi melalui kedatangan Yesus, Sang Emanuel. Ia datang membawa kedamaian dan kebahagiaan.

Dunia, alam semesta, dan kita semua sungguh layak bergembira dan bersorak-sorai memuji nama-Nya.

Amin.

Selamat Hari Raya Natal.
Merry Christmas.
Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

 

Exit mobile version