OPINI

Renungan : Semoga Mereka Menjadi Satu

82
Ilustrasi renungan.

Semoga Mereka Menjadi Satu
(Minggu Biasa II, Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, 18 Januari 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian. Setelah perayaan meriah Pesta Pembaptisan Tuhan pada 11 Januari 2026, kita kembali memasuki Masa Biasa dalam Tahun Liturgi Gereja Katolik.

Hari ini kita merayakan Minggu Biasa II dalam Misa Kudus, yang sekaligus menjadi Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen.

Selama satu pekan ke depan, hingga 25 Januari 2026, kita diajak untuk berdoa secara khusus bagi ujud mulia ini.

Doa untuk persekutuan dan persatuan umat Kristen sesungguhnya bersumber dari Yesus sendiri. Dalam doa-Nya pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus berdoa bagi para rasul, para murid, dan semua pengikut-Nya sepanjang zaman (bdk. Yoh. 17:20–22).

Persatuan ini menyentuh hakikat terdalam Allah sendiri, yakni persekutuan Tritunggal Mahakudus. Yesus berdoa agar semua pengikut-Nya akhirnya sampai pada persekutuan yang sempurna itu.

Namun menarik untuk direnungkan, mengapa dalam doa-Nya Yesus tidak mengatakan, “Mereka harus bersatu,” melainkan “Semoga mereka menjadi satu”?

Jawabannya jelas: Allah menghormati kebebasan manusia. Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih persatuan atau perpecahan, untuk mengikuti kehendak Tuhan atau menempuh jalan sendiri.

Dunia ini menjadi arena perjuangan iman yang menentukan apakah kita sungguh mengikuti Kristus atau justru menjauh dari-Nya. Kita tahu dengan pasti, pilihan manakah yang membawa kita kepada keselamatan.

Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis memberi kesaksian tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).

Ungkapan ini bukan hanya pernyataan iman, tetapi juga undangan bagi setiap orang untuk memandang Yesus sebagai pusat hidup, sumber keselamatan, dan jalan menuju persatuan.

Yohanes Pembaptis menampilkan sikap kerendahan hati yang luar biasa. Ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Ia sadar bahwa seluruh hidup dan misinya hanyalah untuk menyiapkan jalan bagi Kristus.

Sikap inilah yang patut menjadi teladan kita, terutama dalam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen.

Perpecahan di antara umat Kristen adalah luka dalam Tubuh Kristus. Yesus sendiri berdoa agar kita semua menjadi satu, sebagaimana Ia satu dengan Bapa.

Namun egoisme, kesombongan, kepentingan kelompok, dan prasangka sering kali membuat kita sulit menerima perbedaan sebagai kekayaan.

Kita terjebak dalam sikap merasa “lebih benar”, “lebih baik”, atau bahkan “lebih suci” daripada yang lain, sehingga dialog menjadi beku dan persaudaraan terhalang.

Karena itu, kita diajak untuk berdoa dengan sungguh-sungguh bagi persatuan umat Kristen. Dalam doa yang tulus, kita membuka diri agar Roh Kudus memurnikan cara pandang kita dan melunakkan hati kita terhadap sesama saudara seiman.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Sambil membangun relasi pribadi dan kerja sama dengan saudara-saudari dari gereja lain, kita dipanggil untuk meneladan kerendahan hati Yohanes Pembaptis.

Perpecahan sering berakar pada keangkuhan dan ambisi, baik secara pribadi maupun kelompok.

Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa seorang utusan Kristus harus berani menjadi semakin “kecil”, agar Kristus sendiri semakin “besar” dalam segala hal.

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian, perayaan hari ini menegaskan bahwa persatuan lahir dari pertobatan hati yang mendalam dan kesediaan untuk bersama-sama memandang Yesus, Anak Domba Allah, sebagai pusat iman kita.

Jika kita sungguh memandang kepada-Nya, sekat-sekat pemisah akan melebur dalam kasih yang mempersatukan.

Persatuan umat Kristen tidak dimulai dari mimbar-mimbar besar, melainkan dari hati kita masing-masing yang berani berkata seperti Yohanes Pembaptis,

“Aku telah melihat Dia,” dan memberi kesaksian: “Dialah Anak Allah.” Amin.

Tuhan memberkati selalu.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

 

Exit mobile version