Bapak, Ibu, saudara dan saudari sekalian, kita mulai memasuki masa khusus dalam tahun liturgi Gereja, yakni Masa Adven. Lilin di Hari Minggu Pertama Adven ini disebut “Lilin Nubuat Para Nabi”.
Seluruh umat diajak untuk memperhatikan dan merenungkan kesaksian para nabi, utusan Allah, yang berulang kali menyampaikan bahwa sesuatu yang sungguh baru akan dimulai. Kita semua diajak bangun; waktunya sudah tiba untuk mulai bergerak menyongsong masa depan Allah.
Yerusalem tidak pernah bebas dari kedurhakaan dan dosa. Namun demikian, kepada utusan Allah, Yesaya bin Amos (bdk. Yes. 2:1–5), dinyatakan bahwa pada akhirnya bukit Sion akan menjulang tinggi, “sampai segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana” (ay. 2).
Semua bangsa saling mengajak untuk “naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub”. Mereka mengharapkan ajaran tentang jalan hidup dan tentang firman yang keluar dari Yerusalem.
Hal ini terjadi bukan karena jasa manusia, tetapi karena belas kasih Tuhan yang, dalam kegelapan, memberi sinar harapan bagi semua.
Marilah kita insaf bahwa dalam waktu kesesakan, ada pula pengharapan di sana. Mari kita berjalan di dalam terang Tuhan. Semoga Lilin Nubuat Para Nabi menerangi jalan kita.
Yesus sendiri dalam Injil Matius meminta kita untuk berjaga-jaga dan siap siaga, sebab kita tidak tahu pada hari mana Tuhan datang (bdk. Mat. 24:37–44). Bencana dahsyat seperti banjir, letusan gunung berapi, atau pecahnya perang datang secara tidak terduga.
Orang tahu ada sesuatu yang mengancam, tetapi selalu berkata, “Dalam waktu dekat belum akan terjadi.” Orang takut memikirkan peristiwa dahsyat; maka kedatangannya selalu dirasa tiba-tiba dan mengerikan. Orang terus ingin hidup rutin, biasa-biasa saja. Namun hari perhitungan tetap akan datang.
Berbahagialah orang yang menanggapi peringatan Tuhan secara sungguh-sungguh. Mereka sangat sadar dalam imannya bahwa dalam waktu kesesakan yang menghimpit itu pasti ada rahmat Tuhan yang menuntun kepada pengharapan.
Waktu kesesakan bagi umat beriman juga menjadi saat berpaling dari segala yang lain, tinggal hanya berharap pada Tuhan.
Rasul Paulus menyadari bahwa perbuatan-perbuatan kegelapan—hidup dalam pesta pora dan kemabukan, dalam percabulan dan hawa nafsu—adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan waktu kesesakan, yang menghimpit dan merusakkan hidup kita (bdk. Rm. 13:11–14a).
Maka, seperti para nabi sebelumnya, Paulus juga menyerukan kepada kita semua: “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang” (ay. 14a).
Kita diingatkannya bahwa keselamatan sudah dekat pada kita. Jangan terus terlena dan tidur pulas, tetapi bangun dan bergerak.
Kita harus menyadari hidup kita yang penuh hal-hal yang menyesakkan, bahkan merusakkan; lalu berjuang untuk berpaling dari semuanya itu; dan berharap pada Tuhan saja untuk disembuhkan dan dibaharui.
Kita semua diharapkan menyadari dan menghadapi waktu kesesakan agar dituntun menuju pengharapan.
Semoga terang Roh Kudus, melalui lambang cahaya Lilin Nubuat Para Nabi yang sedang menyala pada Lingkaran Adven, menuntun kita semua, satu per satu. Amin.
Tuhan memberkati selalu.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)
