Tuhan Memang Memberi Makan, tetapi Bukan Hanya agar Manusia Kenyang

(Hari Minggu Biasa XVIII – 2 Agustus 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Kita semua merayakan Hari Minggu Biasa XVIII dalam Misa Kudus ini dengan merenungkan tema: “Tuhan Memang Memberi Makan, tetapi Bukan Hanya agar Manusia Kenyang”.

Tidaklah benar bahwa Yesus memberi makan hanya agar manusia kenyang (bdk. Mat. 14:13–21). Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak membiarkan orang banyak itu pergi begitu saja, tetapi menyuruh para murid memberi mereka makan.

Yesus menggunakan sumbangan manusia untuk melipatgandakan roti. Ia menyuruh para murid membagi-bagikan roti kepada orang banyak. Inilah gambaran perhatian dan cara Allah memberi kita makan. Ia sungguh memperhatikan kita, untuk itu kita bersyukur.

Yesus menuntut sumbangan dari kita dan mengajarkan kepada kita untuk membagi. Bukan hanya soal makan dan kenyang. Tetapi, kita harus bisa mengakui penyelenggaraan Tuhan di dalamnya; kita pantas menengadah dan bersyukur seperti Yesus; di sini kita diingatkan akan kewajiban kita “menyumbang” dan “membagi” dengan sesama. Inilah yang dinamakan “makan bersama”. Tuhan memang memberi makan, tetapi bukan hanya agar manusia kenyang.

Pengajaran Yesus di atas seharusnya perlahan bisa berdampak dan berpengaruh pada diri kita. Kecenderungan hanya memikirkan diri sendiri harus mulai tergeser. Kita bisa lebih rela dan ikhlas menyumbang serta membagi dengan orang lain.

Lihatlah pengalaman Rasul Paulus (bdk. Rm. 8:35, 37–39). Ketika itu namanya Saulus. Ia pernah hidup menurut paham darah daging, agama yang fanatik atas dasar kebangsaan sebagai orang Yahudi. Ia sangat sukuis dan egois. Tetapi kemudian ia disergap dan dikuasai oleh Kristus, yang memasukkan unsur salib dan kebangkitan Putra Allah, Penebus bagi segala bangsa, tanpa kecuali.

Cinta Kristus ini mempesona pribadi Paulus yang bercita-cita tinggi dan bersemangat menyala. Ia menyerahkan diri, seluruhnya direnggut, dijiwai, dan digerakkan dalam kebersatuan dengan Kristus. Tidak takut akan kekuatan di surga dan di bumi, menantang hidup dan mati, ia “keranjingan” Kristus, berani berseru: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari cinta Kristus?” (ay. 35).

PASTOR CHARLES LOYAK DEKET.jfif

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian. Marilah belajar dari Rasul Paulus, biarpun perlahan-lahan. Tetapi haruslah dengan sadar. Jujurlah bahwa hati dan pikiran kita masih sering kali melekat erat pada kepentingan sendiri, terkadang masih rasis, sukuis, dan egois. Cukup mirip dengan pengalaman masa lalu Paulus.

Hal ini sangat memengaruhi secara negatif upaya mewujudnyatakan kewajiban yang ditegaskan Yesus kepada kita, yakni kewajiban “menyumbang dan membagi” dengan sesama.

Seperti Rasul Paulus, marilah kita menyerahkan diri seluruhnya kepada Kristus agar direnggut, dijiwai, dan digerakkan perlahan-lahan dalam kebersatuan dengan Kristus. Maka akhirnya kita juga pasti diubahkan dan dibarui sehingga semakin pantas menjadi “Berkat Tuhan” yang tersedia bagi banyak orang, seperti Rasul Paulus. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket, OSC)