Jayawijaya, KV – Material longsor dan banjir memutus akses transportasi darat yang menghubungkan Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Tolikara lumpuh total.
Hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan longsoran material dan banjir yang memutus badan jalan di sejumlah titik.
Berdasarkan laporan di lapangan, kerusakan terparah terjadi di wilayah Distrik Bolakme dan Distrik Tagime, Kabupaten Jayawijaya sejak 19 April 2026.
Kerusakan terjadi di sejumlah titik, termasuk kawasan Golakai, setelah badan jalan patah dan tertutup material longsoran tanah.
Peristiwa jalan longsor ini menuai sorotan publik. Mereka menilai respons pemerintah provinsi maupun kabupaten terlalu lamban.
Menanggapi kritik itu, Kepala Dinas PUPR Papua Pegunungan Tunggul Wijaya Panggabean membantah pemerintah lamban menangani kerusakan jalan.
“Jalan putus dan longsor itu memang sedang ditangani balai jalan. Pekerjaan sudah berjalan sekarang,” ujar Tunggul.
Ia menjelaskan pekerjaan sempat tertunda karena masyarakat meminta normalisasi jalur dilakukan lebih dahulu agar tidak memicu konflik.

Menurut Tunggul, dua hari terakhir alat berat sudah bekerja dan penanganan akses jalan terus dilakukan di lapangan.
“Kami sudah beberapa kali turun langsung ke lokasi. Jadi tidak benar kalau disebut lamban merespons,” ujar Tunggul.
Ia menegaskan titik jalan putus dan longsor sedang ditangani Balai Jalan, sementara pemerintah provinsi terus berkoordinasi.
Menurutnya, pekerjaan sempat terkendala karena adanya permintaan masyarakat terkait normalisasi jalur. Namun, perlu dipahami bahwa normalisasi sungai merupakan kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Merauke.
“Fokus utama kami saat ini adalah menangani jalur darurat agar akses yang menghubungkan beberapa kabupaten ini bisa segera normal kembali,” ujar
Ia menegaskan bahwa penanganan darurat yang kita prioritaskan dulu agar akses ini bisa normal kembali.
“Puji Tuhan, berdasarkan laporan terbaru dari lapangan, akses jalan per hari ini sudah kembali normal dan dapat dilalui kendaraan,” pungkasnya. (Stefanus Tarsi)











