Lewat Festival UMKM, Pemprov Papua Pegunungan Dongkrak Ekonomi Warga dan Atasi Lonjakan Inflasi
Jayawijaya, KV – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan resmi menggelar Festival Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama dua hari, terhitung sejak Kamis (9/7/2026) hingga Jumat (10/7/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor Gubernur Papua Pegunungan ini menjadi salah satu langkah taktis pemerintah setempat dalam mengendalikan laju inflasi daerah sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Gubernur Papua Pegunungan melalui Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah (Sekda), Wasuok Demianus Siep, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang pameran, melainkan instrumen penting untuk menstabilkan harga barang di pasar.

Berbagai produk lokal dipamerkan dan dijual dalam kegiatan ini, mulai dari kerajinan tangan, komoditas perkebunan, hingga hasil pertanian berupa sayur-mayur dan buah-buahan.
"Kegiatan seperti ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk bersama-sama menekan harga," kata Pj. Sekda Wasuok Demianus Siep di lokasi acara.
Selain pengendalian inflasi, ia menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah adalah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Selain itu festival UMKM dapat melatih kemandirian finansial tingkat keluarga agar tidak lagi bergantung pada bantuan luar.
"Kita ingin masyarakat mampu mengelola dan meningkatkan kemampuannya sendiri. Dengan berwirausaha, mereka dapat mengelola pendapatan, mengurangi beban hidup sehari-hari, serta mampu membiayai pendidikan anak-anak sekolah," tuturnya.
Pemerintah optimistis keberlanjutan program UMKM ini secara perlahan akan menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada wilayah Papua Pegunungan.
"Kami berharap seluruh upaya ini berjalan maksimal, sehingga daerah kita tidak lagi dikategorikan sebagai daerah termiskin atau terbelakang. Potensi kita sangat besar," ujarnya.
Wasuok juga mengapresiasi atas kreativitas mama-mama, anak-anak muda dan pelaku usaha lokal di Papua Pegunungan yang dinilai sudah berkembang pesat. Tugas pemerintah dan pemangku kepentingan saat ini adalah memfasilitasi dan memoles kemampuan tersebut agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Saat disinggung mengenai strategi jangka panjang mengatasi tingginya angka inflasi yang dipicu oleh faktor eksternal, ia menyampaikan adanya tantangan berat, terutama dari sektor logistik dan energi.
"Penyebab utama kenaikan inflasi di wilayah kita adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan BBM ini memicu efek domino terhadap lonjakan harga bahan pokok lainnya," jelasnya.
Menyikapi hal tersebut, Pemprov Papua Pegunungan berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh pihak guna mengontrol harga pangan dan kebutuhan pokok di pasar melalui program-program stimulan serupa.
"Kita lakukan upaya bersama dengan semua pihak agar stabilitas harga pangan terjaga dan angka inflasi bisa segera ditekan hingga kembali ke posisi normal," pungkasnya.(Stefanus Tarsi)