Mencari harta yang Sejati, Itulah Mutiara yang Terindah

(Hari Minggu Biasa XVII, 26 Juli 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Kita merayakan Misa Kudus ini pada Hari Minggu Biasa XVII. Kita semua diajak untuk merenungkan secara khusus sebuah tema penting ini: "Mencari Harta yang Sejati. Itulah Mutiara yang Terindah!"

Dalam Misa Kudus ini, kita juga diajak untuk secara khusus mendukung dan mendoakan 62 orang calon katekumen Paroki Cicadas, Gereja Santa Odilia, Bandung. Mereka dilantik menjadi katekumen dan memulai proses pembinaannya sampai saat menerima Sakramen Baptis pada Malam Paskah tahun 2027. Mereka mencari harta yang sejati, "mutiara" yang terindah itu.

Pada hari Minggu ini diperingati juga Hari Kakek, Nenek, dan Lansia Sedunia VI. Maka, marilah kita doakan juga dalam Misa ini kakek dan nenek kita yang hadir di gereja, di panti-panti lansia, atau di rumah-rumah. Semoga di masa senjanya mereka benar-benar menikmati "mutiara" yang didambakannya itu. Hidup damai dan bahagia dalam Tuhan.

Semua orang tahu bahwa "mutiara" itu merupakan salah satu batu permata yang indah dan elegan, yang sangat mahal harganya. Maka, "mutiara" itu sendiri selalu dipakai sebagai lambang dari "sesuatu" yang sangat spesial dan mahal, yang memang dicari-cari semua orang.

Karena sangat spesial dan mahal itu, maka untuk bisa mendapatinya banyak sekali "biaya, korban" yang harus tersedot, habis-habisan, tidak hanya uang, tetapi juga tenaga, waktu, dan lainnya.

Matius dalam Injilnya pada hari ini melukiskan hal 'Kerajaan Surga' itu bagaikan "mutiara" yang indah (bdk. Mat. 13:44-52). Orang-orang sampai menjual seluruh miliknya demi membeli "mutiara" yang indah itu (ay. 44). Kerajaan Surga menurut Penginjil Matius adalah 'inti' dari seluruh pengajaran Yesus Kristus.

Lebih jauh, perumpamaan ini mengajarkan bahwa Kerajaan Surga adalah "Harta yang Sejati", yang nilainya tidak terhingga. Itulah mutiara terindah! Kerajaan Surga begitu berharga sehingga membutuhkan investasi total.

Dalam bacaan pertama (1Raj. 3:5, 7-12), Tuhan sangat berkenan kepada Raja Salomo. Karena Salomo meminta kepada Tuhan bukan umur panjang, atau kekayaan, atau nyawa para musuhnya, melainkan 'hikmat dan pengertian' untuk dapat memutuskan dan memastikan hukum dengan adil bagi seluruh rakyatnya.

Salomo sebagai raja muda tampaknya lama bergumul dan mencari-cari "mutiara" bagi hidup dan pelayanannya. Lalu, dalam doa, ia memintanya kepada Tuhan. Dan Tuhan sangat berkenan serta memberikan apa yang dimintanya! Bagi Raja Salomo, 'hikmat dan pengertian' itu juga bagaikan 'mutiara yang indah' itu!

Sesungguhnya Yesus Kristus sendiri adalah "Hikmat Allah". Hikmat Allah berbicara tentang bagaimana Allah menyelamatkan manusia, bagaimana Kristus menjadi hikmat bagi manusia.

Rasul Paulus menulis, "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan serta menebus kita" (1Kor. 1:30). Kristus yang menyelamatkan manusia dengan hikmat Allah, yaitu dengan cara menebus, membenarkan, dan menguduskan kita.

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian... Bagi kita masing-masing, "mutiara" manakah, seperti apakah, yang sedang kita cari sekarang ini? Apakah 'berbeda' dengan mutiaranya Raja Salomo?

Jikalau kita sangat sering memohon kepada Tuhan umur yang panjang, kekayaan yang melimpahi hidup kita, atau nyawa orang-orang yang pernah menyakiti kita cepat diambil Tuhan, maka Tuhan pasti tidak berkenan kepada kita! Memang berbeda jauh antara "mutiara" kita dengan "mutiaranya" Raja Salomo.

Mari tinggalkan "mutiara-mutiara" kita yang selama ini kita kejar. Bersama Raja Salomo, mari kita berjuang mencari dan mengejar "hikmat dan pengertian" dari Allah. Karena mutiara-mutiara kita yang tidak diilhami oleh hikmat dan pengertian Allah sangat mungkin membawa kita semakin jauh dari Allah dan bisa hilang tanpa kita sadari.

PASTOR CHARLES LOYAK DEKET.jfif

Saudara dan saudari kita, para katekumen, berjuang mencari mutiara sejati dan mau masuk menjadi anggota Gereja Katolik untuk menemukannya. Tetapi kita yang sudah ada di dalam, malah ada yang sudah keluar, meninggalkan Gereja karena didesak oleh mutiaranya yang ternyata palsu dan tidak sejati.

Lihatlah para kakek dan nenek yang kita doakan, ada yang berada di atas kursi roda. "Mutiara indahnya", yakni Yesus Kristus, tetap ada dalam hidupnya sampai hari ini, bahkan sampai nanti ketika ajal tiba. Kakek dan nenek pasti mengharapkan supaya anak dan cucunya juga tetap memiliki Tuhan Yesus sebagai 'Mutiara Hidup' dan Juruselamatnya.

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian... Seperti pedagang yang mencari dan menemukan mutiara indah, gambaran dari orang-orang yang mencari 'Mesias dan kebenaran-Nya', marilah kita terus mencari dan mendapatkan Hikmat Allah, yakni Yesus Kristus. Dialah "Mutiara Indah" itu. DIA ada di tengah-tengah umat-Nya, ada di dalam Gereja-Nya, bahkan di tengah keluarga kita sendiri. Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC).