Mewartakan Injil Kristus: Kewajiban Semua Orang Kristiani
(Hari Minggu Biasa XV – 12 Juli 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Melalui Misa Kudus pada Hari Minggu Biasa XV ini, kita semua diajak untuk menyadari tugas dan tanggung jawab sebagai orang Kristiani dengan merefleksikan tema: “Mewartakan Injil Kristus: Kewajiban Semua Orang Kristiani.”

Proses penginjilan atau mewartakan Injil sebenarnya mempunyai arti yang jauh lebih luas daripada sekadar pewartaan dari atas mimbar, seperti khotbah para pastor di gereja paroki, ataupun pengajaran para katekis dan guru agama di sekolah maupun di kampung-kampung.

Karena itu, sumber penginjilan tidak hanya terbatas pada Kitab Suci dan rumusan doa-doa yang dihafalkan. Bahkan, pewartaan Injil tidak selalu harus dilakukan secara langsung dengan menggunakan Kitab Suci atau sarana sejenisnya.

Penginjilan memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Penginjilan meliputi seluruh karya perutusan dan setiap perbuatan baik yang mencerminkan nilai-nilai Injil. Rasul Yohanes menegaskan bahwa karya dan kehidupan Yesus begitu luas sehingga tidak semuanya dapat dituliskan dalam Kitab Suci (bdk. Yoh. 21:25). Dengan demikian, Kitab Suci bukanlah satu-satunya bentuk pewartaan Injil, melainkan menjadi dasar yang menghidupi seluruh karya pelayanan.

Lihatlah di sekitar kita. Selain Gereja Paroki Santa Odilia, terdapat pula karya pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit Santo Yusuf, pelayanan sosial melalui Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth, serta pelayanan pendidikan melalui Playgroup, TK, dan SD Santo Yusuf. Semua karya pelayanan yang dijalankan di setiap komunitas—gereja, rumah sakit, panti sosial, maupun sekolah—memiliki visi dan misi masing-masing. Namun, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperjuangkan kasih dan kebaikan bagi manusia. Itulah sesungguhnya nilai-nilai Injil yang setiap hari diwartakan melalui karya pelayanan.

Saudara-saudari terkasih,

Kita masing-masing, entah sebagai aktivis gereja, karyawan rumah sakit, pelayan panti sosial, pendidik, karyawan sekolah, maupun dalam profesi apa pun yang sedang kita jalani, hendaknya menyadari bahwa kita adalah para penabur benih. Kita sedang melaksanakan kewajiban sebagai orang Kristiani, yaitu mewartakan Injil Kristus melalui pekerjaan dan pelayanan kita. Kita dipanggil untuk memperjuangkan kasih dan kebaikan bagi sesama.

Penginjil Matius menggambarkan proses pewartaan Injil itu melalui perumpamaan tentang penabur (bdk. Mat. 13:1-23). Benih yang ditaburkan tidak semuanya tumbuh, dan tidak semuanya menghasilkan buah yang sama. Demikian pula dengan karya penginjilan. Betapa pun dilakukan dengan tekun dan setia, pertumbuhan sabda tetap bergantung pada kesediaan hati manusia untuk menerimanya.

Ada pribadi, keluarga, kelompok, wilayah, kota, dan daerah yang menjadi tanah subur bagi benih Injil sehingga menghasilkan banyak buah dan melahirkan banyak panggilan. Namun yang lebih penting adalah bahwa seluruh kehidupan Kristiani—dalam keluarga, perkawinan, pekerjaan, ekonomi, maupun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa—hendaknya dijiwai oleh semangat Injil.

Semoga hati kita, keluarga kita, dan komunitas tempat kita berkarya menjadi ladang yang subur bagi Sabda Allah yang ditaburkan, sehingga bertumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Apabila hati kita masih seperti tanah yang tipis dan berbatu-batu (bdk. ay. 5), semoga Allah sendiri menolong kita agar perlahan-lahan diubah menjadi tanah yang subur bagi Sabda-Nya.

Nabi Yesaya meneguhkan iman kita dengan berkata bahwa firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia tanpa menghasilkan buah. Seperti hujan yang turun mengairi bumi dan menjadikannya subur, demikian pula Sabda Tuhan akan selalu menghasilkan apa yang dikehendaki-Nya (bdk. Yes. 55:10-11).

Semoga hati kita, keluarga kita, dan komunitas kita menjadi ladang yang subur. Semoga hidup kita dipakai Tuhan untuk terus menaburkan benih Sabda-Nya kepada dunia.

Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket, OSC)