(Hari Minggu Tritunggal Mahakudus, 31 Mei 2026)
Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian dalam Kristus. Kita merayakan dalam Misa Kudus ini, suatu pesta penting dan besar di dalam Gereja kita, yakni Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Tema yang akan kita refleksikan bersama-sama, ialah: “Hidup Dalam Daya Semangat Tritunggal Mahakudus”.
Ketika kita dijadikan oleh Allah Pencipta di dalam rahim ibu kita masing-masing, di situ Allah tidak nampak dalam ketiga pribadi-Nya, yakni Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.
Tetapi ketika kita dibaptis (“dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”), melalui sakramen itu kita diciptakan kembali dalam “perahmatan”, dan hidup Tritunggal Mahakudus masuk dalam diri kita masing-masing.
Selanjutnya sangat diharapkan agar kita terus hidup dan bertumbuh-kembang dalam “daya-semangat Tritunggal Mahakudus” itu.
Apalagi sebagai pengikut Kristus, yang seharusnya aktif mengambil bagian dalam peran dan tanggung jawab Kristus sebagai imam, nabi dan raja.
Mengikuti Yesus berarti mengimani kesaksian-Nya bahwa Diri-Nya dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), serta tidak pernah terpisahkan dalam persekutuan Roh Kudus (bdk. 2 Kor. 13:13).
Kita, makhluk manusia ini sesungguhnhya melebihi makhluk lainnya karena mempunyai akal budi dan kehendak bebas; dan oleh karena itu kita bisa memikirkan dan mengatur segala sesuatu, termasuk dunia seisinya dengan akal budi kita. Namun salah satu kekurangan kita, bilamana kita tidak hidup dalam Roh, sebagai meterai ikatan dengan Tritunggal Mahakudus itu.
Sehingga cakrawala kita terbatas pada dunia ini saja: langit, bumi, matahari, bulan, bintang, seluruh ruang angkasa.
Padahal kitab Amsal dengan jelas mencatat sabda kebijaksanaan Allah, bahwa sebelum bumi ada, ‘kebijaksanaan’ sudah ada (bdk Ams 8:22-31). Seharusnya manusia itu hidup juga di dalam kebijaksanaan itu. Dan ‘kebijasanaan’ yang dimaksud adalah Roh itu…
Hidup tanpa Roh tentu saja menyepelekan Sang Kebijkasanaan itu sendiri. Maka tidak akan terwujud dalam hidup kita kerinduan akan hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Kristus; damai sejahtera karena dicurahkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita (bdk Rom 5:1-5; juga Yoh 16:12-15).
Cakrawala hidup memang terbatas pada dunia ini saja. Segala yang ada di baliknya, yakni di seberang sana, tidak didugai apalagi dihargai.
Padahal justru itulah yang mendasarinya, yang Mahatinggi melebihi segala, tetapi tidak diperhitungkan. Dia yang justeru memberi nilai beda dengan dimensi baru pada manusia dan dunianya, tetap tidak dikenal.
Maka hidup manusia tetap miskin, terpancang hanya pada materi dan ukuran-ukuran manusia yang di bawah. Yang dari atas, yang berasal dan bergerak dari Kasih dan karunia Allah, tidak tampak pada mereka. Padahal ALLAH itu sendiri adalah KASIH (bdk. 1 Yoh 4:16), dan bila Ia tidak dikenal, dunia menjadi tanpa kasih, tanpa perasaan akan kemurahan dan pengampunan.
Dunia ini menjadi keras dan dingin seperti besi, hidup manusia tanpa kasih menjadi kejam, terasa rusuh, kering, gelap: manusia penuh luka-luka, tidak disembuhkan; kotor, sesat, tanpa penerangan dan pengarahan: ini kita lihat pada dunia kita tanpa Kristus, tanpa Roh, tanpa Bapa. Tanpa daya-semangat Tritunggal Mahakudus!
Realitas dunia demikian itu, ternyata dunia yang sedang dihuni oleh banyak manusia yang telah dibaptis. Seharusnya hidup manusia-manusia kristiani itu memiliki daya-semangat hidup Tritunggal (bdk 2 Kor 13:11-13), dan tentu saja harusnya membawa pengaruh positif bagi dunia sekitarnya. Namun rasanya pengaruh yang diharapkan itu tidak tampak.
Manusia-manusia kristiani di jaman ini banyak sekali yang masih memperlihatkan hari-hari hidupnya seperti tanpa Kristus, tanpa Roh Kudus, tanpa Bapa.
Mereka sangat sibuk dengan urusan dan pekerjaan pribadi, hobi dan kesenangan diri sendiri, sampai tak ada waktu untuk Tuhan dalam doa dan aktivitas sosial kemanusiaan, baik di rumah, di lingkungan mau pun di Gereja.
Jumlah manusia “tanpa Tuhan” itu sangat banyak di Paroki-paroki, dibanding umat yang biasa giat dan aktif. Seringkali terasa oleh para Pastor dan petugas pewartaan lainnya, masih “sangat sulit” mengajak dan membawa orang-orang itu pulang semakin dekat pada Tuhan.
Sejak semula sampai hari ini, kasih Allah begitu besar bagi dunia ini (bdk Yoh 3:16). Maka pasti Dia sangat peduli. Allah sendiri tahu kesulitan manusia, yang masih menjauh dari pada-Nya, menjauh dari Gereja-Nya. Semoga dengan cara-Nya sendiri Allah membawa mereka pulang kepada-Nya.
Sehingga dunia kita ini, yang keras dan kejam, yang memelihara banyak manusia tegar tengkuk (bdk. Kel 34:9) semakin diwarnai dan disemangati oleh kasih sayang; dunia yang makin penuh dengan belas kasih, kemurahan dan pengampunan. Aminnn.
Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC. ).











