Menunggu Kedatangan Roh Kudus: Sambil Berdoa Bersama Bunda Maria
(Minggu Paskah VII – Hari Komunikasi Sedunia, 17 Mei 2026)
Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Pada Hari Minggu Paskah VII ini, sekaligus Hari Komunikasi Sedunia, kita diajak merenungkan tema: “Menunggu Kedatangan Roh Kudus: Sambil Berdoa Bersama Bunda Maria.”
Sesuai perintah Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga, para murid tinggal di Yerusalem sambil menantikan pencurahan Roh Kudus.
Mereka mempersiapkan diri dalam suasana doa bersama Maria, ibu Yesus. Kitab Suci mencatat bahwa mereka tekun dan sehati dalam doa (bdk. Kis. 1:12-14).
Doa bersama Bunda Maria itu melambangkan doa Gereja. Pada hari-hari ini, doa Gereja berlangsung di seluruh dunia.
Di berbagai paroki dan komunitas umat beriman, dilaksanakan novena Roh Kudus sebagai persiapan menyambut Hari Pentakosta.
Novena Roh Kudus merupakan persiapan batin agar umat semakin terbuka menerima karunia-karunia Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan.
Roh Kudus yang akan dicurahkan adalah Roh yang sama yang telah kita terima dalam pembaptisan. Namun, dorongan-Nya dapat membarui hidup kita dan karunia-karunia-Nya dapat kita alami dengan lebih nyata.
Pada Minggu, 24 Mei 2026 mendatang, Gereja akan merayakan Hari Raya Pentakosta, saat Tuhan mencurahkan karunia Roh Kudus kepada umat-Nya. Karena itu, saat ini kita sungguh menantikan penggenapan janji Tuhan tersebut.
Kita menunggu kedatangan Roh Kudus sambil berdoa bersama Bunda Maria, Bunda Gereja dan Bunda kita semua.
Kita percaya pada pesan Yesus dari kayu salib kepada Yohanes yang mewakili seluruh murid-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Dan kepada murid itu Yesus berkata: “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27). Sejak saat itu, Maria diterima sebagai ibu dalam kehidupan Gereja.

Dalam Injil hari ini (Yoh. 17:1-11), Yesus berdoa kepada Bapa demi kesatuan para murid-Nya. Walaupun para murid masih hidup di dunia dan Yesus tidak lagi hadir secara fisik di dunia, Ia memohon agar mereka dipelihara dalam nama Bapa dan tetap bersatu “sama seperti Kita” (bdk. ay. 11).
Dunia sering kali menghendaki perpecahan, agar para murid tercerai-berai dan mudah dilemahkan. Namun bersama Bunda Maria, para murid tetap berkumpul dan berdoa. Mereka mempersiapkan diri menerima kepenuhan Roh Kudus.
Dalam kebersamaan doa itu, para murid tidak merasa sendirian. Iman mereka justru menjadi semakin kokoh karena didukung dan didoakan oleh Bunda Maria.
Mereka menjadi kuat menghadapi penghinaan, penolakan, dan penderitaan karena iman kepada Kristus (bdk. 1 Ptr. 4:13-16).
Semoga kita pun demikian: tetap tekun berdoa, menjaga kesatuan, dan setia menantikan kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita.
Amin.
Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC. ).











