Jakarta, KV – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (19/5/2026) di pasar spot domestik.
Rupiah tercatat anjlok 30 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.704 per dolar Amerika Serikat siang ini.
Sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah 71 poin atau 0,40 persen ke level Rp17.668 per dolar Amerika Serikat kemarin.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
Menurut Nafan, depresiasi rupiah turut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang masih bergerak volatil beberapa waktu terakhir ini.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut tekanan rupiah dipicu meningkatnya sentimen risk-off pasar global belakangan ini.
Lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik internasional dinilai memperburuk tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah.
“Hasil pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump belum memberikan solusi konkret terkait konflik geopolitik khususnya perang AS-Iran,” ujar Lukman Leong.

Investor disebut mulai meninggalkan aset berisiko setelah minimnya terobosan pertemuan kedua pemimpin negara tersebut beberapa waktu terakhir ini.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga membebani rupiah setelah pidato Presiden Prabowo Subianto mendapat respons negatif dari pasar keuangan.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai tekanan rupiah kini mulai menyentuh aspek fundamental ekonomi nasional Indonesia.
Menurut Fakhrul, pasar mulai mempertanyakan arah pengendalian inflasi hingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah belakangan ini.
“Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri,” ujar Fakhrul Fulvian dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia meminta Bank Indonesia mengambil langkah lebih hawkish dan pre-emptive guna menjaga stabilitas rupiah serta mempertahankan kepercayaan investor domestik.
Jawaban BI
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah fundamental ekonomi nasional.
Menurut Perry, nilai fundamental rupiah berada pada kisaran Rp16.500 sesuai asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026.
“Seasonality-nya April, Mei, Juni karena demand dolar lagi tinggi. Juli dan Agustus nanti akan menguat,” ujar Perry Warjiyo di DPR.
Bank Indonesia optimistis rupiah kembali bergerak menuju level fundamental setelah tekanan permintaan dolar mulai mereda beberapa bulan mendatang nanti. (Redaksi)









