OPINI

“Tubuh-Ku Benar-Benar Makanan, Darah-Ku Benar-Benar Minuman”

0
×

“Tubuh-Ku Benar-Benar Makanan, Darah-Ku Benar-Benar Minuman”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan.

“Tubuh-Ku Benar-Benar Makanan, Darah-Ku Benar-Benar Minuman”

(Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 7 Juni 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian yang terkasih dalam Kristus. Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi Kudus.

Kita diajak untuk sungguh merefleksikan dan percaya pada sabda Yesus: “Tubuh-Ku benar-benar makanan dan Darah-Ku benar-benar minuman” (Yoh. 6:55).

Ekaristi adalah lambang cinta Tuhan di tengah-tengah kita. Dengan memberikan Putra-Nya, Bapa telah memberikan segalanya bagi manusia. Pemberian Yesus dalam Sakramen Mahakudus merupakan pemberian diri-Nya sendiri sebagai ungkapan kasih Bapa kepada umat manusia.

Dengan sengaja Tuhan merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Ia taat sampai wafat di kayu salib demi keselamatan manusia (bdk. Flp. 2:6-8).

Keadaan Kristus yang mengorbankan diri itu dihadirkan kembali dalam Ekaristi Kudus. Ia tetap hadir di tengah kita sebagai tanda kasih Bapa: kasih yang bertubuh, berwajah, berhati, dan berperasaan manusia; kasih yang rela menyerahkan diri sepenuhnya, menanggung penderitaan, penghinaan, bahkan wafat di salib demi keselamatan kita.

Kasih Allah yang menjelma dalam Kristus itu hadir dalam bentuk santapan yang sederhana: roti dan anggur.

Semua orang, anak-anak, kaum muda, pria, wanita, siapa saja yang percaya diundang untuk mengambil bagian dalam perayaan kasih Allah melalui Ekaristi Kudus.

Karena itu, kita perlu semakin menyadari dan sungguh percaya pada sabda Yesus: “Tubuh-Ku benar-benar makanan dan Darah-Ku benar-benar minuman” (Yoh. 6:55).

Dalam Ekaristi Kudus, ketika roti dan anggur telah dikonsekrasi oleh imam, roti sungguh menjadi Tubuh Kristus dan anggur sungguh menjadi Darah Kristus.

Siapa yang menyambut-Nya dengan iman akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. ay. 58).

Sakramen Ekaristi memberikan dampak yang besar bagi kehidupan rohani umat beriman. Rasul Paulus mengingatkan: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, sebab kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor. 10:17).

Di balik roti Ekaristi, hadir Tuhan yang menyerahkan diri-Nya bagi manusia. Inilah kasih terbesar yang diberikan Allah kepada kita.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian, perayaan Ekaristi yang kita rayakan harus mengubah cara hidup kita menjadi semakin bersaudara dengan sesama, siapa pun mereka.

Yesus sendiri memanggil dan mengutus kita untuk menjadi “Ekaristi” bagi dunia yang lapar—bukan hanya lapar akan makanan, tetapi juga lapar akan perhatian, keadilan, pengampunan, dan kasih sayang.

Semoga melalui Ekaristi Kudus, hidup kita semakin dipenuhi kasih Kristus dan menjadi berkat bagi sesama.

Amin. Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket OSC)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

(Hari Minggu Tritunggal Mahakudus, 31 Mei 2026) Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian dalam Kristus. Kita merayakan dalam Misa Kudus ini, suatu pesta penting dan besar di dalam Gereja kita,…

OPINI

Dialektika Konflik dan Pendidikan dalam Masyarakat Modern Pendahuluan Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan manusia dan peradaban. Melalui pendidikan, manusia dibentuk menjadi pribadi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kesadaran moral,…