OPINI

Tanda Besar di Langit: Seorang Perempuan Berselubungkan Matahari

0
×

Tanda Besar di Langit: Seorang Perempuan Berselubungkan Matahari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi renungan.

Tanda Besar di Langit: Seorang Perempuan Berselubungkan Matahari

(Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 16 Agustus 2026)

Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Dalam Misa Kudus ini kita merayakan hari Minggu Biasa XX ini, sekaligus Hari Raya Santa Maria Diangkat ke Surga. Tema yang akan menjadi pokok permenungan kita bersama adalah: “Tanda Besar di Langit: Seorang Perempuan Berselubungkan Matahari”.

Santo Yohanes Damasenus pernah mengatakan demikian: “Sudah selayaknya bahwa Bunda Allah menikmati keistimewaan Putera dan dihormati oleh seluruh ciptaan sebagai ibu dan hamba Allah”. Keistimewaan Putera, itu tentu saja Putera Allah. Dialah Yesus Kristus, “darah-daging” Maria sendiri, yang adalah Manusia dan sekaligus Allah.

Dalam penglihatan, Yohanes telah bersaksi: “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12:1).

Teks ini mulai digunakan untuk menggambarkan kemuliaan Maria secara langsung, setelah dogma tentang Maria diangkat ke surga, diumumkan pada tahun 1950.

Sebab begitu benar nyata kemuliaan Maria ini diakui oleh Gereja Timur dan Barat, dan seluruh umat melihat Maria sebagai Ratu, yang dipuji tak ada taranya.

Konstitusi Paus Pius XII mencatat dengan tegas keyakinan itu: “Santa Maria yang dikandung tak bernoda, menjadi Ibu Allah, tetap perawan suci murni, pendamping mulia Penebus kita dalam mengalahkan dosa dan segala akibatnya… ia bebas dari hukuman menjadi binasa: mengikuti kemenangan Puteranya atas maut, diangkat ke surga, dengan jiwa dan raga” (Konstitusi Paus Pius XII tentang Pengangkatan Santa Perawan Maria ke Surga).

Diteruskan dalam Konstitusi itu, bahwa Ibu Maria memerintah di sana sebagai Ratu di sebelah kanan Raja segala abad, tidak dapat mati”. Kita merasa semua ini mapan digambarkan pada “seorang perempuan, berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12:1) – Maria Ratu, Ibu dan lambang Gereja. Maria itulah “Tanda Besar yang Bercahaya di Langit, Karena Telah Diangkat ke Surga!”

Menurut keyakinan rasul Paulus (bdk. II Kor 15:20-26), Maria itu mengalami penebusan sempurna. Ia mengalahkan musuh terakhir, yakni maut. Sebagai ibu Kristus, dari semula sudah dikandung tak bernoda, karena jasa salib dan penebusan diterangkan sebelumnya kepada Bunda oleh kuasa Allah. Kemudian hidup Maria selanjutnya penuh ketaatan seumur hidup, setiap kali jawaban sempurna kepada sabda Allah dan kehendak Bapa.

Pastor Charles Loyak Deket OSC.

Maka kalau pada akhir hidup kebanyakan manusia masih harus menebusi dosa, menjalani akibat dosa terakhir, yakni maut, pada Maria hal ini tidak berlaku.

Dalam Kristus, Maria sudah menghapus akibat-akibat dosa sejak semula, karena lahir dan hidupnya tak bernoda, terus meningkat dalam kehidupan ilahi sepanjang hidupnya di dunia.

Maka pada akhir hidup ia sudah siap, purna untuk langsung mengikuti Puteranya menerima ‘penebusan paripurna’, mengatasi maut, dalam kebangkitan langsung diarak ke surga.

Maria sendiri dalam imannya yang kokoh telah bersaksi mengenai kuasa Allah atas dirinya: “Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah” (bdk. Luk 1:39-56).

Semoga dari surga Bunda Maria mendoakan kita semua, supaya iman kita kepada Yesus Puteranya semakin kokoh dan kuat. Amin. Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket, OSC) .

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

(Hari Minggu Tritunggal Mahakudus, 31 Mei 2026) Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian dalam Kristus. Kita merayakan dalam Misa Kudus ini, suatu pesta penting dan besar di dalam Gereja kita,…

OPINI

Dialektika Konflik dan Pendidikan dalam Masyarakat Modern Pendahuluan Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan manusia dan peradaban. Melalui pendidikan, manusia dibentuk menjadi pribadi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kesadaran moral,…