Yesus Mendirikan Gereja-Nya Sebelum Naik ke Surga (Hari Minggu Paskah III – 19 April 2026)
Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian yang terkasih dalam Kristus. Dalam Misa Kudus pada Hari Minggu Paskah III ini, melalui bacaan-bacaan Kitab Suci, kita semua diajak untuk merenungkan tema: “Yesus Mendirikan Gereja-Nya Sebelum Naik ke Surga.”
Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus meletakkan dasar pendirian Gereja-Nya, yang kemudian diresmikan pada hari Pentekosta. Selama 40 hari, melalui penampakan-Nya yang berulang kali, lewat perjumpaan, pergaulan, anugerah, penugasan, dan perutusan kepada para murid-Nya, Yesus meneguhkan dasar Gereja-Nya itu.
Bagaimana caranya Yesus mengerjakan semuanya itu?
(1) Membentuk saksi-saksi kebangkitan: bahwa Ia hidup
Dasar Gereja adalah kenyataan bahwa Yesus yang disalibkan itu bangkit dan tetap hidup. Keyakinan bahwa Yesus yang telah mati itu bangkit atas kuasa-Nya sendiri menjadi tertanam kuat karena penampakan Yesus yang berulang-ulang, baik kepada perorangan maupun kelompok, dalam berbagai kesempatan. Seperti dalam Injil hari ini, Yesus menampakkan diri kepada dua murid di jalan menuju Emaus (bdk. Luk. 24:13-35).
Para murid adalah saksi-saksi kebangkitan itu. Dengan mewartakan bahwa Yesus sungguh bangkit, mereka saling menguatkan dan meneguhkan. Kuasa Yesus tidak hanya bekerja dari luar melalui sabda-Nya, tetapi juga di dalam hati mereka, mengobarkan semangat iman.
“Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (ay. 32).
Pada saat yang tidak terduga, Yesus hadir di tengah mereka, memberi Roh dan kuasa kepada para murid-Nya: mengangkat, menugaskan, dan mengutus mereka dengan penuh wibawa. Maka para murid sampai pada dasar iman: bahwa Yesus itu Tuhan (bdk. Kis. 2:14,22-33).
(2) Yesus mempunyai kuasa surga dan kuasa dunia
Pada hari kebangkitan, menurut Injil Matius, terjadi gempa bumi dan para penjaga lari ketakutan. Malaikat sebagai utusan Allah menyampaikan kabar bahwa Yesus bangkit dan berkuasa di surga atas para malaikat, serta di dunia atas para penguasa (bdk. Mat. 28:1-10). Oleh karena kuasa-Nya itu, Ia hadir di mana-mana, setiap waktu, di surga maupun di dunia.
Dengan kuasa itu pula Yesus hadir kepada para murid ketika mereka berjalan dengan murung, berkumpul dalam ketakutan, dan diliputi keraguan. Namun Yesus selalu berhasil menjadikan mereka sadar kembali, percaya lagi, tenang, bersemangat, dan penuh sukacita.
Karunia Roh senantiasa diberikan kepada mereka. Yesus yang bangkit berkuasa atas hati dan budi manusia. Ia menanamkan keyakinan yang kokoh dalam diri para murid. Mereka yang dahulu penakut dan ragu diubah menjadi saksi-saksi yang berani dan menjadi sokoguru Gereja-Nya.
(3) Membuat sabda-Nya berdaya dan berkuasa
Sabda Yesus adalah sabda yang menciptakan. Jika Yesus yang bangkit bersabda, maka sabda itu memberi kuasa, menugaskan, dan mengutus. Tidak ada satu kata pun dari sabda-Nya yang sia-sia tanpa hasil. Sebaliknya, sabda-Nya berdaya guna dan menciptakan.
Karena itu, kuasa Gereja dan para rasul menjadi mantap seperti kuasa Kristus sendiri sampai sekarang. Seperti kata penginjil Lukas: “Siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk. 10:16).
Para murid kemudian mampu membawakan sabda Allah dengan benar, nyata, berkembang, dan hidup. Ketika Yesus mengutus mereka, berarti Bapa sendiri mengutus mereka untuk menempati tempat Yesus dan melanjutkan tugas Yesus. Mereka pergi ke mana pun diutus dengan kuasa Yesus dan bersama Yesus sendiri.
(4) Melengkapi Gereja-Nya dengan sarana-sarana keselamatan
Yesus melengkapi Gereja-Nya bukan hanya dengan sabda-Nya, tetapi juga dengan Roh Kudus, kuasa ilahi, kehadiran-Nya dalam tubuh Gereja, sakramen-sakramen, dan Kitab Suci.
Ketika para murid menerima Roh Kudus dan kuasa penyucian, hal itu terpusat pada pengampunan dosa. Di sinilah dasar Sakramen Tobat. Sakramen-sakramen inisiasi Kristen, yakni Baptis, Penguatan, dan Ekaristi, juga bertumpu pada kuasa Roh Kristus yang sama.
Di dalam Gereja, Roh Kudus membagikan rahmat sesuai kebutuhan umat selama hidup mereka. Karena itu ada Sakramen Imamat, Perkawinan, dan Pengurapan Orang Sakit. Sampai sekarang kita mengenal tujuh sakramen: Baptis, Ekaristi, Penguatan/Krisma, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, Perkawinan, dan Imamat.
Sesudah kebangkitan, Yesus berulang kali menerangkan Kitab Suci dengan terang baru. Para murid pun diterangi dan diarahkan secara baru. Tugas kenabian sebagai pewarta sabda Tuhan tetap diemban Gereja oleh semua anggotanya yang digerakkan oleh Roh Kudus.
(5) Mempercayakan Petrus memimpin Gereja-Nya
Setelah melengkapi Gereja-Nya dengan segala sarana yang dibutuhkan, Yesus memberikan kepercayaan kepada Petrus untuk memimpin Gereja-Nya dan menggembalakan domba-domba-Nya (bdk. Mat. 16:18).
Petrus memegang kunci Kerajaan Surga. Bukan karena jasanya, walaupun ia seorang berdosa dan pernah tiga kali menyangkal Yesus. Namun Tuhan berkata: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya” (ay. 18).
Yesus tetap percaya kepada Petrus, bekerja di dalam dirinya, dan menyertai seluruh tugas penggembalaannya.

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian. Marilah kita semakin sadar bahwa Gereja yang didirikan Yesus itu satu, yakni Gereja Katolik.
Bersyukurlah karena kita saat ini berada dan menjadi bagian dari Gereja yang didirikan Tuhan Yesus sendiri.
Karena itu, marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang aktif, setia, dan siap melayani umat Allah di dalam Gereja-Nya, di mana pun kita berada saat ini.
Amin.
Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket OSC)












Terima kasih renungan nya pastor. Sehat selalu buat pastor
Amin Petrus batu karang yang teguh.
Selmt berhari Minggu Romo.
Berkah Dalem