“Berjalanlah dengan kakimu di atas bumi, tetapi hatimu di dalam surga”
“Berjalanlah dengan kakimu di atas bumi, tetapi hatimu di dalam surga”
(Hari Minggu Biasa XIX – 09 Agustus 2026)
Bapa, ibu, saudara dan saudariku sekalian yang terkasih dalam Kristus. Kita bersama-sama merayakan Misa Kudus ini pada Hari Minggu Biasa XIX. Tema penting yang kita renungkan bersama adalah: “Berjalanlah dengan kakimu di atas bumi, tetapi hatimu di dalam surga”.
Pengalaman Petrus dalam Injil hari ini, ia berjalan sebentar di atas air, kemudian terjatuh (bdk. Mat. 14:22–33), mengingatkan kita akan kata-kata bijak Santo Yohanes Bosco (1815–1888). Kata-katanya itu persis seperti tertera pada tema di atas. “Berjalanlah dengan kakimu di atas bumi, tetapi hatimu di dalam surga”. Kata-kata orang kudus ini tentu saja merupakan ungkapan dan penegasan iman pribadinya yang mendalam dan sangat bermakna.
Petrus dengan kawan-kawannya berada dalam perahu mendahului Yesus ke seberang. Sedangkan Yesus sendiri mendaki bukit untuk berdoa di sana. Tiba-tiba datanglah angin sakal mengombang-ambingkan perahu mereka. Para murid merasa terancam. Kira-kira pukul tiga pagi. Datanglah Yesus kepada mereka, dengan berjalan di atas air. Melihat Yesus yang berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!” Lalu mereka berteriak dan ketakutan.
Tetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya: “Tenanglah, inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata, “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, surulah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air”. Kata Yesus, “Datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Keduanya lalu naik ke perahu dan angin pun reda (bdk. Mat. 14:22–33).
Kondisi tantangan yang benar-benar menyulitkan Petrus dan kawan-kawannya itu melukiskan ‘kenyataan hidup manusia’ yang harus dihadapi. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Itulah kondisi yang pernah dikatakan Santo Yohanes Bosco, “Berjalanlah dengan kakimu di atas bumi”, hadapilah itu semua, jangan menyangkal, menghindar atau lari dari padanya.
Sambil di saat yang sama, “hati kita haruslah di dalam surga”. Apa maksudnya? Menghadapi semua tantangan itu, kita dituntut, haruslah dengan iman dan kepercayaan besar kepada Tuhan. Hanya mengandalkan Tuhan saja! Petrus tidak sungguh-sungguh dan benar-benar percaya, sehingga ia jatuh dan tenggelam. Maka Yesus menegurnya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Pengalaman panggilan hidup Nabi Elia (bdk. Raj. 19:9a.11–13a) dan Rasul Paulus (bdk. Rm. 9:1–5) masing-masing memberi kita ‘pelajaran mahal’ mengenai harus “berjalan dengan kaki di atas bumi, sambil hati di dalam surga” itu. Dengan tabah Elia mengalami pelbagai krisis dan aneka frustrasi, hingga ia menemukan Sabda Sejati. Bukan dalam badai dan angin sakal, tetapi dalam kelembutan angin sepoi-sepoi basah.

Sementara Rasul Paulus mengalami depresi hebat akibat berhadapan dengan banyak masyarakat kafir dan realitas bangsanya sendiri yang sungguh keras menolak Yesus. Namun karena dihadapi dengan iman dan kepercayaan besar kepada Tuhan, hanya mengandalkan Dia, yang berdaya dan bekerja, makanya Roh Allah tercurah atasnya, semuanya dilancarkan.
Bapa, ibu, saudara dan saudari sekalian. Sadarlah, bahwa kita hidup dan masih berada di bumi dengan segala realitas tantangan dan kesulitannya, kecil dan besar. Kita harus bisa menghadapinya dengan iman dan kepercayaan besar kepada Tuhan. “Kita harus bisa berjalan dengan kaki di atas bumi, tetapi hati di dalam surga”.
Jikalau kita kurang percaya dan bimbang, kita akan jatuh dan gagal. Malahan akibatnya ‘mata iman’ kita bisa menjadi sangat kabur. Tuhan yang sedang datang menjumpai kita di tengah badai kehidupan ini, kita justru sangka dan berteriak, “Itu hantu!”. Waspadalah itu. Aminnnn.
Tuhan berkati kita semua.
( Pastor Charles Loyak Deket, OSC)