FBLB 2026 Jayawijaya Tak Lagi Tampilkan Atraksi Perang
Jayawijaya, KV – Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2026 tampil beda tanpa atraksi perang antar-distrik yang selama ini menjadi ikonnya.
Kabid Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Jayawijaya, Naftali F. Rumbiak, menjelaskan bahwa perubahan konsep ini sengaja dilakukan agar esensi kebudayaan asli Wamena dapat tersampaikan secara lebih intim kepada para wisatawan.
"Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya siap menyapa dunia dengan konsep baru yang lebih segar, edukatif, dan modern melalui pertunjukan drama sosial (social drama) yang mengangkat tradisi sakral suku Dani.
Sebagai gantinya, kata Naftali, FBLB 2026 akan mengalihkan fokus utama pada konsep social drama (drama sosial) yang mendalam, sakral, dan penuh makna. Hal ini bertujun untuk merekonstruksi sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi suku Dani yang mulai terkikis oleh perkembangan zaman.
"Selain itu, pada FBLB 2026 ini kami tidak lagi menggunakan nama distrik, melainkan atas nama sanggar tari. Social drama yang ditampilkan nanti akan menceritakan siklus kehidupan serta seni budaya kita yang mulai terkikis atau ditinggalkan," ujar Naftali.
Melalui konsep alam terbuka nantinya, penonton akan diajak menyelami berbagai ritual adat yang jarang terekspos. Mulai dari fase kelahiran anak, prosesi inisiasi adat masuk ke Honai laki-laki, hingga tradisi berkabung yang sakral.
Perubahan tradisi pertunjukan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi turis domestik maupun mancanegara, sekaligus menjadi ruang edukasi budaya yang bermakna bagi generasi muda Papua.
Ia juga menambahkan FBLB tahun ini Tidak hanya perubahan dari segi konsep acara, melainkan juga menerapkan sistem tiket online dan pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.
Langkah inovatif ini diambil untuk memberikan kemudahan akses, terutama bagi para wisatawan mancanegara.
"Selama ini turis asing sering mengeluhkan kesulitan melakukan pembayaran non-tunai di lokasi. Tahun ini kami sediakan fasilitas QRIS. Transparansi juga terjaga karena semua hasil penjualan tiket akan langsung masuk ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD)," jelas Naftali.
Pemerintah daerah telah menyiapkan 20 titik loket pembelian tiket online. Melalui terobosan digital ini, Pemkab Jayawijaya menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp300 juta.
Diketahui Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026, mulai pagi hari hingga pukul 13.00 WIT di area utama Lembah Baliem.(Gadiel)