Letakkanlah Hidupmu di Dalam Tangan Tuhan
(Hari Minggu Biasa XII – 21 Juni 2026)

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian yang terkasih dalam Kristus. Pada Hari Minggu Biasa XII ini, kita bersama-sama diajak untuk merefleksikan hidup kita melalui tema: “Letakkanlah Hidupmu di Dalam Tangan Tuhan.”

Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahatahu dan Mahabijaksana. Tangan-Nya selalu siap melindungi, menuntun, dan menyertai setiap manusia. Kita sungguh yakin dan percaya akan hal itu.

Hal tersebut tampak dalam pengalaman Daud, raja Israel sekitar tahun 1000 sebelum Masehi. Daud menuliskan refleksi iman atas pengalamannya bersama Tuhan. Entah ketika ia duduk atau berdiri, bepergian atau beristirahat di rumah, berada di langit atau di dalam kubur, mengungkapkan pikiran atau menyimpannya sendiri, bahkan ketika berada di tempat yang paling terpencil di bumi, Daud menyadari bahwa ia tidak dapat lari dari hadirat Tuhan.

Daud justru merasakan dirinya selalu berada dalam tangan Tuhan. Ia berkata: “Di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (Mzm. 139:10).

Penginjil Matius juga menegaskan betapa besar dan mengagumkan kuasa Tuhan. Yesus berkata: “Rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Mat. 10:30).

Pastor Charles Loyak Deket, OSC

Pastor Charles Loyak Deket, OSC

Tidak seorang pun mampu menghitung seluruh helai rambut di kepalanya sendiri, apalagi rambut orang lain. Namun Tuhan, Sang Pencipta, mengenal manusia secara sempurna.

Artinya, Tuhan mengetahui diri kita jauh lebih lengkap daripada kita mengenal diri kita sendiri. Jika setiap helai rambut kita terhitung oleh-Nya, maka segala sesuatu dalam diri kita pun diketahui-Nya dengan jelas: kekuatan dan keterbatasan, kekurangan dan kelemahan, dari yang besar hingga yang paling kecil.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk takut dan gentar ketika kita hidup bersama Tuhan. Ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan sampai batas kemampuan kita, kuasa Tuhan akan bekerja menolong dan menguatkan kita.

Hal itu juga tampak dalam kisah Nabi Yeremia (bdk. Yer. 20:10-13). Karena hidupnya berada dalam tangan Tuhan yang memanggil dan mengutusnya, Yeremia sanggup menjalankan tugas kenabiannya. Ia dipanggil untuk menyampaikan sabda Tuhan, membongkar dan merobohkan kejahatan, serta menegur orang-orang yang menyimpang dari jalan Tuhan.

Tugas itu tidak mudah. Yeremia mengalami penolakan, perlawanan, bahkan permusuhan dari banyak orang. Ia merasakan beratnya pergulatan dalam menjalankan panggilan Tuhan. Namun, ia tidak dapat mundur atau menarik diri, sebab Tuhan sendiri yang menguasai dan mengutusnya untuk berjalan seturut sabda-Nya.

Bapa, ibu, saudara, dan saudariku sekalian, marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Dalam suka maupun duka, dalam keberhasilan maupun kesulitan, percayalah bahwa tangan Tuhan tetap menuntun, memegang, dan menyertai kita.

Letakkanlah hidupmu di dalam tangan Tuhan.

Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

(Pastor Charles Loyak Deket, OSC)