Gandum dan Lalang, Keduanya Dicintai Tuhan!
“Gandum dan Lalang”: Keduanya Dicintai Tuhan!
(Hari Minggu Biasa XVI – 19 Juli 2026)
Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus. Pada Hari Minggu Biasa XVI ini, kita merayakan Misa Kudus sambil merefleksikan tema: “Gandum dan Lalang”: Keduanya Dicintai Tuhan!
“Gandum” dan “lalang” dalam Alkitab, khususnya dalam Injil hari ini (bdk. Mat. 13:24-43), telah lama dikenal sebagai lambang orang baik dan orang jahat di hadapan Allah serta sesama. Benih gandum melambangkan orang yang mendengar dan melaksanakan firman Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang hidup menurut kehendak Allah. Sementara itu, benih lalang melambangkan mereka yang mengikuti jalan kejahatan.
Yesus menaburkan benih gandum, tetapi Ia juga mengetahui bahwa Iblis terus menaburkan lalang. Kedua jenis benih itu tampak serupa pada awal pertumbuhannya. Perbedaannya baru terlihat ketika gandum mulai berbulir.
Karena itu, mencabut lalang pada masa awal pertumbuhan justru dapat membahayakan gandum. Inilah pesan penting dari tuan pemilik ladang: biarkan keduanya tumbuh bersama sampai musim panen tiba. Memang ada risiko, sebab akar lalang dapat mengganggu pertumbuhan gandum, tetapi waktunya memisahkan bukan sekarang.
Yesus menghadirkan Kerajaan Allah di dunia melalui Gereja-Nya. Namun, setelah lebih dari dua ribu tahun, dosa dan kejahatan tetap ada di dunia, bahkan juga di dalam Gereja. Iblis terus berusaha mempertahankan pengaruhnya. Akan selalu ada orang yang tidak percaya ataupun yang menyesatkan sesamanya.
Dalam menghadapi kenyataan itu, kita sering tergoda untuk menjauhkan atau mengucilkan mereka. Namun, Yesus tidak menghendaki sikap seperti itu. Gereja yang didirikan-Nya adalah Corpus Mixtum, yaitu persekutuan yang terdiri atas orang-orang yang sedang bertumbuh dalam kekudusan maupun mereka yang masih bergumul dengan kelemahan dan dosa. Yesus mengasihi mereka semua.
Memang selalu ada risiko bahwa orang benar dapat dipengaruhi oleh kejahatan. Namun, bahaya yang lebih besar adalah kesombongan orang yang merasa dirinya benar, lalu menghakimi dan menyingkirkan orang lain yang dianggap berdosa. Padahal, Tuhan menghendaki agar keduanya tetap hidup berdampingan hingga akhir zaman.
Yesus sendiri menunjukkan sikap itu sepanjang hidup dan karya pewartaan-Nya. Ia tidak membangun kelompok yang tertutup dan hanya menerima orang-orang yang dianggap suci. Sebaliknya, Ia membangun persekutuan yang terbuka. Ia bergaul dengan semua orang: laki-laki dan perempuan, orang saleh maupun orang berdosa. Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah ditujukan kepada semua orang. Benih Sabda ditaburkan kepada setiap jenis tanah. Yesus memahami bahwa akan selalu ada yang menerima dan ada pula yang menolak pewartaan-Nya.
Bapa, ibu, saudara, dan saudari sekalian,
Sebagai pengikut Kristus, sering kali kita justru gagal meneladani sikap Yesus. Tanpa disadari, kita mudah menghakimi, memisahkan diri, bahkan menolak orang lain. Padahal, menghakimi adalah hak Tuhan pada akhir zaman, bukan hak manusia. Dialah yang akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Selama masih hidup di dunia ini, marilah kita terus menunjukkan kesabaran, belas kasih, dan kasih persaudaraan kepada semua orang, baik kepada mereka yang tampak seperti gandum maupun kepada mereka yang tampak seperti lalang.
Sebab kita sendiri pun tidak luput dari kelemahan. Kita juga pernah jatuh ke dalam dosa dan kesesatan. Namun Tuhan selalu memberikan kesempatan baru untuk bertobat dan kembali kepada-Nya (bdk. Keb. 12:16-19).
Amin. Tuhan memberkati kita semua.
(Pastor Charles Loyak Deket, OSC)