Jayawijaya, KV – Menjaga nadi transportasi di Lembah Baliem bukan perkara mudah. Salah satu tantangan yang masih dihadapi masyarakat adalah pelayanan pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi angkutan umum di Kota Wamena yang hingga kini masih diwarnai antrean panjang dan praktik pengetap BBM subsidi.

Kota Wamena yang berada di jantung Lembah Baliem menjadi pusat aktivitas ekonomi di wilayah Pegunungan Papua. Angkutan umum, baik angkot maupun taksi lokal, bukan sekadar sarana transportasi, tetapi menjadi penghubung utama mobilitas masyarakat, distribusi barang, hingga hasil bumi dari berbagai distrik dan kabupaten menuju pusat perdagangan di Wamena.

Karena itu, kelancaran distribusi BBM bersubsidi menjadi faktor penting bagi keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, penyaluran BBM subsidi di Wamena masih menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan mulai dari kondisi geografis, keterbatasan distribusi, sistem kupon untuk Biosolar, hingga maraknya pengetap yang membeli BBM subsidi untuk dijual kembali kepada sektor industri.

Distribusi BBM ke Wamena sangat bergantung pada jalur udara dan jalur darat Trans Papua yang memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tersebut membuat pasokan BBM rentan mengalami keterlambatan sehingga memengaruhi ketersediaan stok di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Antrean kendaraan di SPBU pun menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat. Dari empat SPBU yang ada di Wamena, hanya tiga yang masih melayani pengisian BBM bagi angkutan umum.

Di sisi lain, tantangan terbesar adalah memastikan BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, benar-benar diterima masyarakat yang berhak, bukan dialihkan kepada pengetap yang kemudian menjualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi.

Salah seorang sopir angkot di Wamena, Pieter Gombo, mengatakan kuota BBM harian sering kali cepat habis akibat pasokan yang tidak menentu. Menurut dia, kondisi cuaca maupun kendala distribusi melalui jalur udara dan darat turut memengaruhi ketersediaan BBM di SPBU.

"Ketika BBM di SPBU habis, kami terpaksa membeli BBM eceran dengan harga lebih mahal. Akibatnya biaya operasional meningkat dan akhirnya tarif angkutan ikut terdampak sehingga masyarakat juga ikut terbebani," katanya, Rabu (8/7).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya bersama Pertamina dan aparat keamanan mulai memperbaiki tata kelola penyaluran BBM bersubsidi melalui sistem digital.

Setiap armada angkutan umum kini diwajibkan mendaftarkan kendaraannya agar memperoleh QR Code sebagai identitas saat melakukan pembelian BBM bersubsidi.

Sistem tersebut diharapkan mampu mencegah pembelian berulang oleh kendaraan yang sama serta memastikan volume pengisian sesuai ketentuan.

Selain itu, penerapan jalur khusus atau pengaturan waktu pengisian bagi angkutan umum juga dinilai dapat mengurangi antrean yang selama ini bercampur dengan kendaraan pribadi.

"Kalau ada jalur khusus, kami tidak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengantre BBM. Sekarang antreannya masih bercampur sehingga waktu mencari penumpang banyak terbuang," ujar Pieter.

Pengawasan terpadu juga dinilai perlu diperketat dengan melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri. Langkah tersebut diperlukan untuk menindak kendaraan yang menggunakan tangki modifikasi sekaligus memastikan penyaluran BBM bersubsidi berjalan sesuai aturan.

Pelayanan BBM bersubsidi di Wamena bukan hanya berkaitan dengan operasional SPBU, tetapi juga menyangkut stabilitas harga barang, biaya transportasi, dan roda perekonomian masyarakat Pegunungan Papua.

Ketika sopir angkutan umum memperoleh BBM bersubsidi secara mudah, tepat sasaran, dan sesuai harga yang ditetapkan pemerintah, distribusi barang serta mobilitas masyarakat dapat berjalan lancar. Sebaliknya, apabila distribusi terganggu, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok di pasar.

"Perlu ketegasan pemerintah, komitmen Pertamina dalam menjaga distribusi, serta kesadaran masyarakat untuk tidak menyalahgunakan BBM bersubsidi agar pelayanan semakin baik dan perekonomian Wamena terus tumbuh," tutup Pieter. (Redaksi)