Musim Kemarau di Wamena Berdampak pada Pasokan Air Bersih, Ini Penjelasan BMKG
Jayawijaya, Koranvox.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena memprediksi musim kemarau di Papua Pegunungan berlangsung hingga akhir Agustus 2026.
Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda mengatakan musim kemarau telah dimulai sejak akhir April dan masih berada dalam kondisi normal.
Meski demikian, dampak kemarau mulai dirasakan masyarakat karena banyak sumur bor mengalami penurunan debit air.
"Kami prediksi kemarau ini akan berakhir pada akhir Agustus. Pertumbuhan awan sangat sedikit sehingga sinar matahari mengeringkan permukaan tanah. Banyak sumur bor warga mengering saat ini," kata Ahmad di Wamena, Rabu (29/7).
Menurut Ahmad, musim kemarau merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi di Wamena dan wilayah sekitarnya.
Ia menjelaskan kemarau umumnya dimulai pada akhir April atau awal Mei. Musim tersebut diperkirakan berakhir pada Agustus atau awal September.
Karena itu, BMKG Wamena mengimbau masyarakat memanfaatkan air secara bijaksana.
"Kami imbau masyarakat, apabila turun hujan, airnya dapat ditampung sebagai persediaan. Kemarau masih berlangsung hingga akhir Agustus atau awal September," ujarnya.
Musim kemarau yang berkepanjangan mulai dikeluhkan warga di Kota Wamena. Banyak sumur bor mengalami penurunan debit, bahkan beberapa sudah mengering. Kondisi itu terutama terjadi di kawasan permukiman dataran tinggi hingga menengah.
Salah seorang warga Wamena, Obbok Silak, mengatakan sumur bor di rumahnya di Jalan Irian Atas mulai mengalami penurunan debit sejak dua pekan terakhir.
Ia mengaku harus menunggu cukup lama agar air kembali keluar dari sumur.
"Banyak masyarakat Wamena hanya mengandalkan sumur bor karena tidak ada penyediaan air bersih dari PDAM. Pada pertengahan musim kemarau ini kami mulai merasakan kekurangan pasokan air bersih," katanya.
Obbok berharap pemerintah menyiapkan langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Menurut dia, air menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat, ternak, dan sektor pertanian.
"Bagi kami petani di Jayawijaya akan sangat kesulitan menyiram tanaman pada musim kemarau seperti ini. Apalagi sumber air cukup jauh. Tanaman juga bisa mati," ujarnya. (Stefanus Tarsi)